Eulogi bagi Galaksi
Ketika Beliau pergi menjauh, menghampiri pintu saya, dapat terlihat sejumlah besar ikan yang berserdawa lebih banyak lagi. Begitu banyak, hingga mereka tidak bisa menahan diri dan meledak menjadi jutaan bintik bercahaya. Buliran kecil cahaya yang keluar dari seluruh tubuh mereka menerpa saya sebelum hilang ke ujung lain luar angkasa untuk menjadi matahari bagi galaksi yang lain. Dan, ketika saya disentuhnya, saya bisa mendengar suara bintang-bintang itu:
Suara tawa.
Ah, ternyata inilah maksudnya.
Beliau senang saya puji.
Ikan-ikan berserdawa (sampai meledak, kadang-kadang) ketika Beliau merasa senang. Cahaya-cahaya bintang itu adalah pancaran kebahagiaan Beliau.
(Zezsyazeoviennazabrizkie, Semua Ikan di Langit: 37)
Dua puluh enam Desember. Entah pada pukul berapa ibumu mencukupkan peperangannya dengan peluh dan lenguh hingga akhirnya 28 tahun silam kau hadir di jajaran semesta yang mahaluas ini. Pada hari ini, saya patut bersuka dan berbahagia atas kehadiranmu yang selama setahun belakangan mengorbit di denyut horizon saya. Meski kehadiranmu kini harus dibarengi penanda makna silam.
Mungkin benar observasi bus tersebut bahwa bintang lahir ketika Sang Maha sedang berbahagia. Karena menemukanmu di sibuknya lalu-lalang manusia pada berlapis-lapis algoritma merupakan keberuntungan bagi saya, bahkan terhitung hingga saat ini. Maka, saya pikir tidaklah salah jika sekali lagi saya berusaha membuatmu abadi, biar pun lagi-lagi hanya di gumpalan awan bentukan algoritma. Tak lupa saya haturkan doa untuk diri, bahwa ini menjadi yang terakhir.
Sejak beberapa tahun lalu, saya memutuskan untuk menetapkan dua hari dalam setahun sebagai waktu sakral untuk menyepi. Satu hari pada bulan Juli, satu hari lainnya pada bulan Desember. Pada dasarnya kedua waktu tersebut memiliki konsep penggunaan yang hampir mirip, sebagai sebuah kala untuk saya berdiam diri, mengingat apa-apa saja yang terjadi selama setahun belakangan, menuangkan dalam sebuah memoar maya agar kelak bisa saya jadikan kuitansi untuk bersyukur. Bedanya, pada bulan Juli saya akan memberikan sebuah peluk diri, sementara pada bulan Desember lebih berupa belaian di rambut saya yang tebal ini. Dan bukan dibesar-besarkan, belaian diri kali ini besar dukungannya akibat kemunculanmu pada suatu Maret di tahun lalu.
Mungkin benar observasi bus tersebut bahwa bintang lahir ketika Sang Maha sedang berbahagia. Karena menemukanmu di sibuknya lalu-lalang manusia pada berlapis-lapis algoritma merupakan keberuntungan bagi saya, bahkan terhitung hingga saat ini. Maka, saya pikir tidaklah salah jika sekali lagi saya berusaha membuatmu abadi, biar pun lagi-lagi hanya di gumpalan awan bentukan algoritma. Tak lupa saya haturkan doa untuk diri, bahwa ini menjadi yang terakhir.
Sejak beberapa tahun lalu, saya memutuskan untuk menetapkan dua hari dalam setahun sebagai waktu sakral untuk menyepi. Satu hari pada bulan Juli, satu hari lainnya pada bulan Desember. Pada dasarnya kedua waktu tersebut memiliki konsep penggunaan yang hampir mirip, sebagai sebuah kala untuk saya berdiam diri, mengingat apa-apa saja yang terjadi selama setahun belakangan, menuangkan dalam sebuah memoar maya agar kelak bisa saya jadikan kuitansi untuk bersyukur. Bedanya, pada bulan Juli saya akan memberikan sebuah peluk diri, sementara pada bulan Desember lebih berupa belaian di rambut saya yang tebal ini. Dan bukan dibesar-besarkan, belaian diri kali ini besar dukungannya akibat kemunculanmu pada suatu Maret di tahun lalu.
Sangatlah gampang untuk mengagumimu, dan saya tidak akan protes untuk hal itu. Sesekali bahkan saya berpikir bahwa inilah akhirnya titik persona fiksi yang terbangun amat ideal di kepala saya benar-benar terproyeksi. Inilah titik tubuh saya menyerah pada apa-apa yang disuguhkan hidup di atas meja. Eksistensimu; sebuah wujud eskapis fiktif dari tak habis-habisnya episode semacam tragedi epik Yunani di garisan saya. Batas linglung itu sudah sama sekali tak saya pikirkan, nyata atau tidaknya bukan lagi jadi perkara. Saya bertaruh dengan diri sendiri, dengan mempertaruhkan pula diri sendiri. Tidak masalah.
Saya ingat, pada suatu waktu sebelum saya pindah ke kotamu yang sendu ini, saya pernah berkata bahwa saya tidak akan pernah bisa berjanji pada siapa pun untuk masih berkeliaran di tempat yang sama, bahkan di sependek tiga tahun mendatang. Saya akan menggunakan kesempatan saya ini untuk menjelaskan lebih komprehensif perihal pernyataan pesimis tersebut.
Saya sangat suka bertaruh dengan hidup saya. Apa-apa yang saya inginkan akan saya utarakan di mulut dalam bentuk oposisinya. Semacam ajakan saya untuk duel melawan garisan hidup agar sesekali ia membuktikan bahwa mulut saya bisa juga salah sesekali. Lalu apa yang terjadi adalah garis tersebut lebih sering memilih untuk menangkap suara dari mulut saya ketimbang ingin saya. Dan selama ini saya bertahan dengan mekanis yang demikian adanya. Pun ini lagi yang membuat saya bertahan pada penggunaan makna silam untuk apa-apa yang berjalin denganmu.
Saya agaknya harus memberikanmu semacam ikram, karena kau sadari atau tidak, kemunculanmu sedikit banyak mempermudah transisi fase yang cukup membingungkan saya setahun lalu. Melalui kemunculanmu saya dapat pelan-pelan merefleksi apa keinginan saya. Saya kembali menyentuh buku, kembali menulis, kembali lagi ingin menjadi anak yang paling tahu segalanya agar bisa menyandingi horizonmu. Dan yang terpenting, saya ingin mencoba berusaha lagi menjadi korek api apabila menjadi Canopus masih terlalu jauh dari jangkauan.
Saya tidak menyesal sama sekali membiarkan pintu ini terbuka untuk beberapa saat dan membiarkanmu mengorbit di dalam dengan gaduhnya. Satu-satunya yang akan saya salahkan adalah kewahaman diri saya sendiri saat menemukanmu. Jika tidak ada yang pernah menepuk pundakmu dan berterima kasih, biarkan di sini saya nyatakan:
Terima kasih telah membiarkan saya tersandung pada lintasanmu.
Selamat ulang tahun, Bintang.
Comments
Post a Comment