Catatan Hari Kemenangan
Suara beduk bersahut-sahutan tanpa henti, seluruh umat tenggelam dalam suka cita kemenangan. Takbir menggema berhias malam berbintang, satu lagi keagungan Tuhan yang tak siapapun bisa mengelak.
Semua orang bersuka ria, dan mungkin, aku termasuk di dalamnya.
Ya, hanya sebatas mungkin.
Ini bukan pertama kalinya aku merayakan malam takbiranku tanpa keluarga. Mama, ayah, dan adik-adikku.
Sudah berkali-kali kami terpisah di hari kemenangan, namun kali ini sangat beda rasanya. Mungkin karena dulu, aku tahu aku masih bisa pulang untuk bertemu mereka. Dengan kondisi sekarang juga tidak menutup kemungkinan untuk bertemu, tapi hanya sekadar bertemu, tidak untuk tinggal bersama lagi.
Salah satu cita-citaku sudah terkabul. Alhamdulillah, sangat kusyukuri itu, namun ternyata selalu ada yang harus terkorbarkan. Hidup, kadang di atas, kadang tidak bisa dapat semuanya, harus memilih.
Terbesit pikiranku jauh ke bulan lalu di mana semangatku menggebu-gebu ingin segera membawa koperku keluar dari rumah, ketika jauh sebelum hari kepindahanku, Raihan, adikku yang berumur 7 tahun terus berkata dalam nada canda, "Teh, ga usahlah kuliah. Di rumah aja, nanti kalau teteh kuliah di Jakarta, yang ajak abang pergi siapa?"
Sedikit menelan ludah dengan senyum getir ketika mengingat caranya menunjukkan bahwa ia tidak ingin kutinggalkan.
***
Bandara Internasional Sutan Syarif Qasim II Pekanbaru, 3 Agustus 2012.
Sungguh perasaan campur aduk yang aku sendiri tidak bisa tafsirkan. Tapi mungkin, sepuluh menit saja aku memandangi keluargaku secara intensif yang sedang menunggu keberangkatanku, bisa saja aku membatalkan kepergianku hari itu layaknya potongan adegan sinetron-sinetron yang tak kunjung habis episodenya dan karena pemikiran itulah aku tidak berani memandangi ayah, mama, dan adik-adikku terlalu lama hingga tiba saatnya waktuku untuk pergi.
Pada hari itulah, pertama kali aku merasakan pelukan mama begitu erat mendekap tubuhku dan secara tidak sadar hal itu juga memicu aku melakukan hal yang sama.
"Hati-hati di sana, belajar yang benar, jangan buat nenek susah, mama sayang sama teteh.." sambil terisak dan tetap memeluk.
Mama bukanlah tipe ibu seperti ibu kebanyakan. Beliau cenderung keras dan menyimpan rasa sayangnya kepada anak-anaknya terutama aku hanya untuk hatinya sendiri. Itu pula yang membuatku sering berseberangan pendapat dengannya. Namun hari itu bisa kurasakan betapa hancur hatinya aku tinggalkan.
Malam itu aku benar-benar tidak peduli siapa pun. Untuk bernapas saja susah karena aku juga harus mengatur derasnya airmata yang keluar dari sudut mataku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sangat tidak senang harus kembali ke kota kelahiranku, Jakarta.
***
Pagi lebaran, semua orang sibuk mempersiapkan apa yang bisa dan harus dipersiapkan. Kue-kue kering, baju, peralatan sholat, hingga sandal yang dianggap paling jelek untuk pergi ke masjid agar sandal yang masih baru masih terlihat bersih kala bersilaturahmi.
Aku tidak termasuk ke dalam golongan tersebut. Siklus menghalangiku mengikuti euforia kemenangan, dua tahun berturut-turut.
Pukul 6.30, rumah nenek sudah sepi. Hanya ada aku dan tanteku yang harus merawat anaknya yang masih bayi. Pada saat itulah aku putuskan untuk meringkuk di kamar beberapa menit, memandangi foto mama, ayah, dan adik-adikku dan menyelesaikan kewajibanku sebagai seorang wanita, menangis.
Genap 16 hari sudah aku meninggalkan mereka. Enam belas hari terlama dalam hidupku dan betapa besar rinduku untuk mereka.
Semua orang bersuka ria, dan mungkin, aku termasuk di dalamnya.
Ya, hanya sebatas mungkin.
Ini bukan pertama kalinya aku merayakan malam takbiranku tanpa keluarga. Mama, ayah, dan adik-adikku.
Sudah berkali-kali kami terpisah di hari kemenangan, namun kali ini sangat beda rasanya. Mungkin karena dulu, aku tahu aku masih bisa pulang untuk bertemu mereka. Dengan kondisi sekarang juga tidak menutup kemungkinan untuk bertemu, tapi hanya sekadar bertemu, tidak untuk tinggal bersama lagi.
Salah satu cita-citaku sudah terkabul. Alhamdulillah, sangat kusyukuri itu, namun ternyata selalu ada yang harus terkorbarkan. Hidup, kadang di atas, kadang tidak bisa dapat semuanya, harus memilih.
Terbesit pikiranku jauh ke bulan lalu di mana semangatku menggebu-gebu ingin segera membawa koperku keluar dari rumah, ketika jauh sebelum hari kepindahanku, Raihan, adikku yang berumur 7 tahun terus berkata dalam nada canda, "Teh, ga usahlah kuliah. Di rumah aja, nanti kalau teteh kuliah di Jakarta, yang ajak abang pergi siapa?"
Sedikit menelan ludah dengan senyum getir ketika mengingat caranya menunjukkan bahwa ia tidak ingin kutinggalkan.
***
Bandara Internasional Sutan Syarif Qasim II Pekanbaru, 3 Agustus 2012.
Sungguh perasaan campur aduk yang aku sendiri tidak bisa tafsirkan. Tapi mungkin, sepuluh menit saja aku memandangi keluargaku secara intensif yang sedang menunggu keberangkatanku, bisa saja aku membatalkan kepergianku hari itu layaknya potongan adegan sinetron-sinetron yang tak kunjung habis episodenya dan karena pemikiran itulah aku tidak berani memandangi ayah, mama, dan adik-adikku terlalu lama hingga tiba saatnya waktuku untuk pergi.
Pada hari itulah, pertama kali aku merasakan pelukan mama begitu erat mendekap tubuhku dan secara tidak sadar hal itu juga memicu aku melakukan hal yang sama.
"Hati-hati di sana, belajar yang benar, jangan buat nenek susah, mama sayang sama teteh.." sambil terisak dan tetap memeluk.
Mama bukanlah tipe ibu seperti ibu kebanyakan. Beliau cenderung keras dan menyimpan rasa sayangnya kepada anak-anaknya terutama aku hanya untuk hatinya sendiri. Itu pula yang membuatku sering berseberangan pendapat dengannya. Namun hari itu bisa kurasakan betapa hancur hatinya aku tinggalkan.
Malam itu aku benar-benar tidak peduli siapa pun. Untuk bernapas saja susah karena aku juga harus mengatur derasnya airmata yang keluar dari sudut mataku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sangat tidak senang harus kembali ke kota kelahiranku, Jakarta.
***
Pagi lebaran, semua orang sibuk mempersiapkan apa yang bisa dan harus dipersiapkan. Kue-kue kering, baju, peralatan sholat, hingga sandal yang dianggap paling jelek untuk pergi ke masjid agar sandal yang masih baru masih terlihat bersih kala bersilaturahmi.
Aku tidak termasuk ke dalam golongan tersebut. Siklus menghalangiku mengikuti euforia kemenangan, dua tahun berturut-turut.
Pukul 6.30, rumah nenek sudah sepi. Hanya ada aku dan tanteku yang harus merawat anaknya yang masih bayi. Pada saat itulah aku putuskan untuk meringkuk di kamar beberapa menit, memandangi foto mama, ayah, dan adik-adikku dan menyelesaikan kewajibanku sebagai seorang wanita, menangis.
Genap 16 hari sudah aku meninggalkan mereka. Enam belas hari terlama dalam hidupku dan betapa besar rinduku untuk mereka.
Comments
Post a Comment