Idul Adha di Desa Nangerang Wetan
Nangerang Wetan adalah salah satu desa di daerah Wanayasa, Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Desa ini merupakan kampung halaman Uyutku, Ibu dari Nenekku. Sudah menjadi tradisi setiap tahunnya bagi keluarga besarku untuk pulang kampung ke desa ini sehari setelah perayaan Idul Fitri. Ya, bisa dibilang aku hanya mengunjungi kampung halaman keluarga ini sekali dalam setahun. Namun tahun ini berbeda.
Setelah kepergian Nenek yang begitu mendadak dan terjadi begitu cepat dan membuatku secara resmi tidak memiliki kakek atau pun nenek lagi, Nenek dikuburkan di kompleks pemakaman keluarga di desa ini. Demi menghormati "kehadiran" dan sisa-sisa kenangan yang Nenek tinggalkan, kami sekeluarga ditambah adik-adik Nenek yang juga kupanggil Nenek, berencana untuk merayakan Idul Adha di Nangerang Wetan, tempat Nenek, Kakek, Uyut, Abah, dan beberapa saudara lainnya--yang mungkin sudah meninggal sebelum aku dilahirkan--dikubur. Ini pertama kalinya bagiku merayakan Idul Adha di kampung.
Perjalanan dimulai tengah malam hari Kamis dengan niat agar tidak terjebak macet. Mungkin tradisi mudik sudah mendarah daging untuk sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga tradisi ini tidak hanya dilakukan pada Idul Fitri, namun juga Idul Adha meskipun jatah libur yang diberikan pemerintah jauh lebih sedikit daripada perayaan Idul Fitri. Jarak Jakarta-Purwakarta sebenarnya tidak terlalu jauh, maksimal memakan waktu dua jam ditambah lagi dengan perjalanan dari "tengah kota" Purwakarta ke Wanayasa yang paling lama memakan waktu satu jam.
Perjalanan dari rumah hingga Tomang berjalan lancar meskipun tidak bisa dibilang keadaan lalulintasnya sepi namun paling tidak, tidak padat merayap. Perjalanan dari Tomang hingga Purwakarta-lah yang merupakan mimpi buruk. Dengan keadaan di dalam mobil yang begitu sempit karena jumlah orang yang terlalu dipaksakan masuk, juga keadaan lalulintas yang meskipun melewati jalan tol, padat jarang bergerak, perjalanan terasa sangat jauh dan melelahkan. Hingga akhirnya, voila! Perjalanan yang biasanya memakan waktu maksimal tiga jam, berkembang biak dua kali lipat hingga enam jam. Pukul lima pagi, keesokan harinya, akhirnya kami bisa meluruskan kaki kembali setelah enam jam ditekuk di dalam mobil.
Lelah, kurang tidur, kaki-tangan-leher kaku, harus disimpan karena kami harus kembali bersiap-siap mematut diri lagi agar terlihat "layak" untuk sholat Ied. Pemandangan hari itu sungguh unik, bukan karena pemandangan alam pedesaan yang sejuk, namun pakaian yang dikenakan sebagian besar wanita dalam keluargaku yang mengenakan baju Nenek, termasuk aku. Well, even I'm not a girl and not a woman yet.
Sholat Ied dimulai pada pukul 6.30 dan merupakan sholat Ied yang paling berbeda yang pernah aku alami selama hidupku. Kami, jamaah wanita, sholat di sebuah tempat bernama Kobong yang biasanya merupakan tempat mengaji remaja-remaja sekitar karena Surau di kampung kami hanya mampu menampung jamaah pria. Nenek-nenek, ibu-ibu, remaja-remaja, dan tak lupa anak-anak memenuhi Kobong, yang perkiraanku bisa menampung maksimal 70 orang yang diimami oleh Eneh, yang masih termasuk keluarga besarku.
Bisa dibilang, sholat Ied kali ini pikiranku melayang entah ke mana. Jika ingin menyalahkan, tentu anak-anak kecil yang akan kusalahkan. Tangisan dan rengekan mereka seperti virus endemik yang cepat sekali menyebar. "Mak, hayang jajan mak", "Mak, hayang uwih mak" sembari menangis mereka menarik-narik mukena ibunya yang sedang sholat. Bukan hanya satu anak yang berbuat demikian, satu minta jajan, semua minta jajan. Satu minta pulang, semua minta pulang. Begitulah jelasnya betapa tidak khusyu' sholatku pagi itu.
Selesai sholat, kami sekeluarga langsung makan di rumah panggung anyaman bambu yang masih kuat berdiri milik Uyut, dan jelas, tidur setelahnya. Tidak tahu berapa lama aku tertidur pulas dan dibangunkan Tante untuk berfoto bersama di areal pemakaman keluarga. Dan tidur lagi setelah berfoto-foto. Siang harinya, kami menyusuri sawah untuk turun ke Sungai Ciherang. Ini juga merupaka salah satu tradisi yang terus ada di dalam keluargaku, terutama untuk yang umurnya sebaya dan di bawahku.
Merupakan suatu keasyikan tersendiri untuk sekadar duduk-duduk di bebatuan dan merendam kaki di Ciherang bagi kami anak-anak kota yang tinggal di rimba pencakar langit. Kami tumbuh bersama sungai ini. Semakin besar tubuh dan semakin dewasa umur kami, semakin kecil pula batu-batu yang melintang di tengah sungai yang dulu membutuhkan perjuangan keras untuk sampai ke atasnya. Sayangnya, hari itu Ciherang sedang kering sehingga alirannya tidak deras dan tidak terlihat jernih.
Begitulah Idul Adha-ku tahun ini di Desa Nangerang Wetan, kampung halaman keluarga besarku. Tidak peduli bersuku Betawi, Minang, atau pun Jawa, Desa Nangerang Wetan-lah kampung halaman kami
Sholat Ied dimulai pada pukul 6.30 dan merupakan sholat Ied yang paling berbeda yang pernah aku alami selama hidupku. Kami, jamaah wanita, sholat di sebuah tempat bernama Kobong yang biasanya merupakan tempat mengaji remaja-remaja sekitar karena Surau di kampung kami hanya mampu menampung jamaah pria. Nenek-nenek, ibu-ibu, remaja-remaja, dan tak lupa anak-anak memenuhi Kobong, yang perkiraanku bisa menampung maksimal 70 orang yang diimami oleh Eneh, yang masih termasuk keluarga besarku.
Bisa dibilang, sholat Ied kali ini pikiranku melayang entah ke mana. Jika ingin menyalahkan, tentu anak-anak kecil yang akan kusalahkan. Tangisan dan rengekan mereka seperti virus endemik yang cepat sekali menyebar. "Mak, hayang jajan mak", "Mak, hayang uwih mak" sembari menangis mereka menarik-narik mukena ibunya yang sedang sholat. Bukan hanya satu anak yang berbuat demikian, satu minta jajan, semua minta jajan. Satu minta pulang, semua minta pulang. Begitulah jelasnya betapa tidak khusyu' sholatku pagi itu.
Selesai sholat, kami sekeluarga langsung makan di rumah panggung anyaman bambu yang masih kuat berdiri milik Uyut, dan jelas, tidur setelahnya. Tidak tahu berapa lama aku tertidur pulas dan dibangunkan Tante untuk berfoto bersama di areal pemakaman keluarga. Dan tidur lagi setelah berfoto-foto. Siang harinya, kami menyusuri sawah untuk turun ke Sungai Ciherang. Ini juga merupaka salah satu tradisi yang terus ada di dalam keluargaku, terutama untuk yang umurnya sebaya dan di bawahku.
Merupakan suatu keasyikan tersendiri untuk sekadar duduk-duduk di bebatuan dan merendam kaki di Ciherang bagi kami anak-anak kota yang tinggal di rimba pencakar langit. Kami tumbuh bersama sungai ini. Semakin besar tubuh dan semakin dewasa umur kami, semakin kecil pula batu-batu yang melintang di tengah sungai yang dulu membutuhkan perjuangan keras untuk sampai ke atasnya. Sayangnya, hari itu Ciherang sedang kering sehingga alirannya tidak deras dan tidak terlihat jernih.
Begitulah Idul Adha-ku tahun ini di Desa Nangerang Wetan, kampung halaman keluarga besarku. Tidak peduli bersuku Betawi, Minang, atau pun Jawa, Desa Nangerang Wetan-lah kampung halaman kami
Comments
Post a Comment