Sepiring Tempe dan Teman Baru

Adzan Isya' baru saja selesai berkumandang saat aku sampai ke kamar. Lelah. Lelah sekali malam itu sepulang latihan persiapan PK (Petang Kreatif), ditambah lagi dengan kuliah sedari pagi. Dengan segera aku keluar lagi dari kamar untuk mencuci kaki, muka, dan berwudhu sebelum tergoda empuknya kasur.
Selepas sholat Isya' sudah tidak tertahankan lagi hasratku untuk mencumbu si dia, ya, si kasur yang empuk yang telah menjadi bahan pikiranku seharian.

Jadi mahasiswa memang menyenangkan, awalnya. Semakin lama menggeluti peran menjadi mahasiswa (mahasiswi dalam kasus ini) semakin sedikit pula waktu untuk sekadar bersantai merebahkan badan.
Baiklah, sekian berkeluh kesahnya.

Singkatnya setelah menemukan apa yang anak-anak muda bilang "pewe", aku mulai menggeliat mencari hp. Hidup seseorang yang telah berada dalam suatu hubungan yang sudah berjalan agak lama dan secara tiba-tiba riding solo memang butuh adaptasi ekstra. Terkadang, hp yang tidak bergetar saja rasanya sering bergetar. Dan malam itu, ada satu pesan yang tertera di layar hp. Alhamdulillah, mblo...

Dengan hati-hati kubuka isi sms itu, daaaaaaan...ternyata dari seorang wanita. Antiklimaks sekali saudara-saudara. Baiklah, ternyata pengirim sms itu merupakan salah satu kenalanku di kelas Pengantar Kesusasteraan Indonesia, seorang mahasiswi Korea yang sedang menghabiskan satu semesternya di UI, Seung Eun. Nama lengkapnya dalam huruf latin di KTM sih Baik Seung Eun, namun aku yakin marganya adalah Baek karena selama aku menonton drama maupun film negeri ginseng itu, tidak kutemukan marga Baik, yang kutemukan adalah Baek.

Secara tiba-tiba Seung Eun bertanya setelah memanggilku dengan banyak tanda seru. Ia bertanya apakah aku free esok hari. Hari Jum'at, hari-paling-tidak-ada-niat-kuliah, ya, kelas MPKT-A yang hanya akan memakan waktu paling lama 1,5 jam dari jam delapan pagi. Maka masih dengan alis kanan sedikit naik ke atas (pertanda bingung kali ini, bukan skeptis) aku balik bertanya kenapa tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaannya. Jawaban yang kudapatkan sepuluh menit setelahnya bahkan lebih membuatku terheran-heran dan sedikit membuat perutku geli, "Mari makan tempe bersama!!!"

Ya, tempe. Memang sekitar seminggu sebelum percakapan itu, ia pernah bertanya kepadaku secara tiba-tiba di mana ia bisa mendapatkan tempe dan dengan asal aku menjawab di warteg-warteg menuju apartemennya.
Maka malam itu sudah terencana apa yang akan kulakukan esok hari selesai kuliah, mencari tempe.

Keesokan harinya setelah kuliah selesai, aku langsung melesat ke perpustakaan, tidak untuk membaca tapi untuk bertemu Seung Eun yang sudah terlebih dahulu menungguku sambil menemani temannya yang mengajarkan bahasa Korea ke salah seorang mahasiswi. Setelah percakapan singkat dan hai-hai-an, aku dan Seung Eun pergi dan memulai pengembaraan kami mencari tempe. Sambil berjalan aku tidak bisa menolak untuk menuntaskan kebingunganku perihal tempe jenis apa yang ia cari. Apakah tempe goreng biasa, gorengan tempe, tempe mendoan, atau tempe bacem. Dengan penjelasan pelan-pelan akhirnya kudapati jawabannya yang mengidam-idamkan tempe goreng biasa. Bingung karena takutnya ia tidak biasa makan di warteg, kuarahkan ia ke salah satu restoran yang menu jagoannya adalah batagor.

Kami lantas memesan batagor untukku, menu ayam bakar dan nasi serta seporsi tempe untuknya. Pembicaraan pun dimulai dari kesukaannya terhadap makanan Indonesia, dan tempe sebagai pusat perhatiannya. Ia sangat menyukai masakan Sunda. Selain itu ia juga sangat menyukai masakan dengan olahan kambing, termasuk sate. Selama kuliah dan berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa asing, jawaban yang mereka berikan terhadap pertanyaanku akan makanan kesukaan mereka cenderung sama, yaitu sate. Mungkin nanti aku akan mengerjai mereka dengan Sate Padeh khas Minangkabau, jikalau aku menemukan pedagang Sate Padeh di kawasan Depok, tentunya.

Makanan kami satu persatu datang ketika ia bercerita tentang bagaimana berbedanya penyajian jus di restoran-restoran di Indonesia dengan restoran-restoran di negara asalnya yang hanya menyajikan minuman dalam kaleng. Ia pun bercerita tentang betapa ia menyukai saus botolan Indonesia hingga bahkan ia membawa pulang satu botol saus ke Korea di kunjungannya ke Indonesia yang pertama kali. Obrolan begitu renyah sampai sang tempe pun datang disertai wajah sumringah yang tergambar di wajahnya. Lucu betapa makanan yang sebegitu ringan di mata orang asli Indonesia bisa memikat warga negara lain.

Sepiring tempe yang terdiri dari tujuh potong tempe yang tidak terlalu tipis pun tidak terlalu tebal itu langsung difotonya. Sebagai acara selebrasi, pikirku. Dan baru kali itu aku lihat tempe diperlakukan begitu tinggi. Bagaimana tidak? Seung Eun memakan tempenya dengan memotong tempe tersebut menggunakan pinggiran garpu dan mencocolnya ke saus, lebih terlihat seperti makan sepotong kue ketimbang tempe. Dan aku, sebagai "tuan rumah" yang menghormati tamunya pun mau tidak mau mengikuti cara memakan yang sama, menggunakan garpu.

Siang itu, meskipun agak aneh, tapi rasanya juga lucu menghadapi tempe yang sedemikian dipuja.

Comments

Popular Posts