Cerpen : Sisinya yang Lain

     “Eh kenalan lah, nama kau siapa?”
       “Diga.”
      “Mak, mak, sombong kali anak baru ni, mentang-mentang dari Bandung.”
    Aku hanya memperhatikannya dari tempat dudukku yang berjarak tiga bangku dari tempatnya. Diga Liana, siswi baru. Perawakannya sedang, tidak tinggi dan tidak juga pendek, kulitnya kuning langsat, dengan mata yang lebar berwarna coklat tua, dan rambut panjang bergelombang. Ada sesuatu dari diam dan tatap matanya yang membuatku tidak berhenti curi-curi pandang. Bukan karena ia anak baru, apalagi pindahan dari luar kota, namun entah hal apalagi yang ditawarkannya selain pandangannya yang terlihat rapuh sehingga membuatku begitu tertarik.
    Seminggu, dua minggu, belum ada perubahan dari sikapnya untuk berkenalan, bahkan dengan sesama siswi di kelas. Diga begitu dingin dan terkesan tidak peduli, bahkan ketika teman-teman sekelasku mulai membicarakan betapa sombong gelagatnya. Ia selalu datang di menit-menit terakhir sebelum bel masuk berbunyi, menghilang ketika jam istirahat, dan melangkah keluar paling cepat ketika sekolah usai. Tidak ada yang mengenalnya.
***
     “Hari ini Bu Titi ikut seminar, rangkum bab tiga, ujian blok minggu depan diundur,” teriak Deni sang ketua kelas mengumumkan yang langsung dibalas dengan sahutan gembira warga kelas. Saat itu pula Diga bangun dari kursinya dan berjalan hendak keluar kelas. Penasaran dengan tingkahnya, aku mengikuti dari belakang.
    Perpustakaan, ternyata itulah tempat Diga selama dua minggu ini bersembunyi ketika istirahat dan jam kosong. Jelas saja aku tidak pernah melihatnya karena perpustakaan merupakan tempat yang paling jarang kukunjungi di sekolah. Namun bukannya membaca, ia malah melipat tangannya di meja, menyandarkan kepala ke tangannya, dan tidur. Tiga puluh menit aku memperhatikannya hingga ia bangun. Melihat Diga terbangun, aku dengan sigap bersiap meninggalkan perpustakaan. Namun belum sempat aku keluar dari pintu perpustakaan, seseorang mencolekku dari belakang.
    “Wima? Eh, bener,” katanya sambil tersenyum. “Mau ke kelas kan? Sama-sama yuk,” tangannya menarik tanganku.
      “Eh, ehm, ayo,” jawabku singkat dengan gerak kaku karena keheranan.
     Apa yang terjadi padanya? Aku bahkan belum pernah berkenalan secara langsung dengannya. Bagaimana bisa begitu drastis perubahannya hingga menjadi sangat ramah seperti ini?
    Dan sebulan itu Diga menjadi pribadi yang sangat ramah. Ia mulai berkenalan dengan warga kelas dan mau berinteraksi. Hubunganku dan Diga pun turut berkembang hingga tak butuh waktu lama untukku menjadikan Diga lebih dari sekadar teman.
***
     Sudah tiga hari ini Diga tidak masuk sekolah dan tidak menghubungiku. Aku bukan tipe pria posesif yang butuh diperhatikan setiap saat, namun aku juga bukan pria dingin yang tidak pedulian, apalagi aku dan Diga sudah berada pada tahun terakhir SMA. Maka dengan alasan itulah aku tetap menghubunginya meskipun tidak pernah mendapat respon, tanpa menuntut balasan.
“Kamu ke mana tiga hari ini? Kok telepon dan SMS ga ada balasannya ya? Kamu sakit?” tanyaku pagi itu ketika melihatnya masuk kelas.
“Banyak bacot, lo!” seru Diga sambil menaruh tas dan melangkah lagi keluar.
“Diga? Kamu...”
Apa ini? Apa yang terjadi denganmu, Ga?
Diga kembali memainkan peran sebagai pribadi yang dingin, pribadi yang aku kenal pertama kali. Ia tidak pernah mau semeja denganku ketika aku dekati. Ia bahkan meneriakkiku ketika aku mulai mengikutinya. Ia menolak untuk mengerjakan tugas dan keluar kelas hampir di setiap pelajaran. Aku sempat berpikir mungkin ada sesuatu yang ia benci dari kelakuanku, tapi setelah kucoba mengingat kembali apa yang pernah aku lakukan, aku tidak menemukan sesuatu yang salah.
***
Kubiarkan sepeda motorku terparkir di depan ruko agak jauh dari rumahnya. Aku sudah muak akan perlakuannya terhadapku. Lebih baik ini benar-benar selesai daripada hanya kuanggap selesai agar konsentrasi untuk masuk perguruan tinggi idamanku tidak buyar. Diga tidak akan kubiarkan memperlakukanku seenaknya!
Terdengar suara teriakan, semakin jelas ketika aku sampai di depan pagar rumah Diga. Diga keluar dari rumah, diikuti seorang wanita yang kira-kira berumur 40-an. 
“Persetan, Ma! Gue ga butuh lelaki itu jadi bokap gue. Gue ga butuh bokap. Sekarang tinggal elo, Ma, butuh gue apa butuh lelaki itu?”
“Diga, Mama minta kamu kasih waktu Mama untuk bicara. Ga, ayo masuk dulu ya, Nak.”
Lo udah buat keputusan lo!” Dan Diga pun keluar dari pagar rumahnya tanpa menoleh sedikit pun kepadaku.
Butuh sekitar sepuluh menit untukku mencerna apa yang terjadi. Aku tidak masalah Diga berteriak atau pun memakiku, tapi ini ibunya, wanita yang melahirkannya. Dan gue-elo? Aku memang lahir dan besar di Pekanbaru, tidak pernah kutinggalkan kota ini lebih dari tiga minggu. Di sini sapaan gue-elo bukanlah sapaan yang umum, tapi aku tetap mengerti batasan pemakaian gue-elo, dan jelas, pemakaiannya tidak kepada orangtua.
Ibu Diga keluar dari pagar rumahnya mengejar Diga, lagi-lagi tanpa menoleh kepadaku. Ya, sudah kukatakan, butuh beberapa menit untuk mencerna apa yang sedang terjadi hingga akhirnya aku bergegas mengejar Diga dan ibunya hingga keluar komplek perumahan. Di tengah keramaian jalan kembali kudengar suara Diga berteriak.
Woy bangsat! Jangan bawa motor kalo ga tau cara ngerem.”
Lelaki berbadan besar itu menghampiri Diga yang sedang terduduk di tengah jalan sambil membuka helmnya. “Mbak, ngomongnya ga bisa baik-baik?”
“Baik-baik kepala lo! Cih!” Ludahnya tepat mengenai wajah lelaki berbadan besar itu.
“Anak setan kau, ya!” Dengan spontan lelaki berbadan besar itu menghempaskan helm yang ia jinjing ke kepala Diga dengan keras. Saking kerasnya, suara benturan antara kepala dan helm itu terdengar hingga ke sisi jalan, tempatku membeku. Diga terkulai pingsan di atas aspal dengan darah segar mengucur dari pelipis kirinya.
***
Sudah dua hari Diga tidak juga siuman. Sudah dua hari juga aku mencoba meyakinkan diriku bahwa yang aku lihat bertikai hebat dengan ibunya dan pengendara motor berbadan besar dua hari yang lalu itu bukanlah Diga. Aku memang belum terlalu lama mengenal Diga, tapi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui kelembutan dan keramahannya, terlepas dari sikap dinginnya di awal ia masuk sekolah. Masih sulit untuk logikaku menerima peristiwa yang terjadi dua hari yang lalu. Peristiwa yang membuat tubuhku kaku tidak bergerak untuk menyelamatkannya. Separah itukah perkara memiliki Ayah baru bagimu, Ga?
“Tante pikir Diga sudah berubah sejak kepindahan kami ke sini, apalagi Diga sampai bercerita tentang Wima ke Tante, tapi ternyata masih sama,” kata Tante Niar, Ibu Diga, hampir menangis.  “Emosi Diga tiga tahun belakangan ini hampir tidak bisa terkontrol. Satu kota untuk satu kepala teman sekelasnya yang pecah. Tante ga tahu lagi harus bagaimana menghadapi Diga.”
Tante Niar menangis. Logikaku makin sulit untuk diajak bernalar. Satu kota untuk satu kepala teman sekelasnya yang pecah? Itukah alasannya ia pindah ke sekolahku?
“Ma, kepala Diga sakit, Ma. Sakit banget, Ma. Sakit..” Diga siuman dan menangis seperti anak kecil.
“Iya, Nak. Ini kan Diga lagi diobatin. Sabar ya, Nak. Jangan gitu lagi, kan Diga pernah janji ini kota terakhir kita.”
“Diga kenapa, Ma? Kok Diga bisa begini?” Masih menangis.
Aku hampir tidak percaya dengan pemandangan yang terjadi di depanku. Diga menangis laiknya anak kecil dan Tante Niar mengelus-elus tangannya menguatkan. Apa yang sinetron-sinetron itu suguhkan benar adanya? Seseorang bisa terkena amnesia ketika kepalanya terbentur dengan keras. Apakah amnesia itu memang benar adanya? 
***
Ujian nasional merupakan momok menakutkan bagi setiap mereka yang duduk di tahun terakhir dari segala tingkatan pendidikan. Tiga sampai empat hari penentuan lulus tidaknya mereka dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Hingga dua hari sebelum UN, aku belum melihat Diga berada di sekolah. Seringkali ingin menjenguk ke rumahnya, namun selalu saja niat itu urung kulakukan. Baik aku mau pun dia sudah menganggap ini berakhir.
Hari pertama UN kulewati dengan lancar. Persiapanku sudah matang. Aku harus lulus. Karena kelulusanku merupakan tiket jalan pintas untuk melanjutkan pendidikanku ke Pulau Jawa, berkuliah di sana sesuai impianku sejak menjadi siswa tahun pertama di SMA. Pada malam harinya ketika selesai belajar, telepon genggamku berbunyi. Sebuah surel, dari Diga yang akhirnya menyatukan puzzle-puzzle tentang dirinya yang tidak pernah sukses kurangkai.



Wima,

Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi kepadamu, dan semua yang telah kamu lihat. Mengerikan bukan? Seorang gadis sepertiku bisa melakukan hal yang begitu liar dan di luar kendali. Aku pun ngeri mengetahui bahwa aku bisa melakukan hal semacam itu.
Ketika kamu mendapat e-mail ini, kemungkinan aku sudah berada di pesawat menuju Connecticut, Amerika Serikat. Yang pasti tujuanku ke sana bukan untuk belajar. Aku sedang sakit dan di sanalah tempat berobatku.
Ya, aku sedang sakit. Kalangan medis menyebutnya dengan MPD (Multiple Personality Disorder) atau bahasa awamnya, kepribadian ganda. Yang berteriak dan memaki itu bukan diriku, bukan juga orang lain. Ia merupakan bagian dari diriku yang muncul tanpa kusadari. Ketika ia mengambil alih, aku seperti tertidur, tidak mengetahui apa yang terjadi, apa yang ia paksa untuk aku lakukan.
Dulu, ketika baru masuk SMP, Ayahku yang bekerja sebagai wakil rakyat terjerat dua kasus sekaligus. Korupsi dan skandal hubungan gelap. Ini merupakan pukulan yang sangat berat bagiku dan Mama, beruntung identitas kami tidak pernah tersiar ke ranah publik, tapi sepandai-pandainya bangkai tersimpan toh baunya tercium juga.
Teman-teman sekolahku lambat laun mengetahui apa yang terjadi dan mulai mengucilkanku, hingga akhirnya mereka mulai mengintimidasiku. Dua tahun penuh aku berjuang untuk bertahan atas apa yang mereka lakukan kepadaku. Tak pernah terpikir olehku untuk memberitahu Mama karena kondisinya yang juga masih sangat terpukul. Itulah saat-saat ia lahir dan menjadi refleksi pelarianku.
Ketika beranjak SMA, ia mulai mengambil alih diriku. Memporak-porandai setiap hal yang ia tak suka, hingga akhirnya ia terlibat pertikaian dan berakhir dengan ia memecahkan vas bunga ke kepala teman sekelasku, untung bagiku karena keluarganya tidak membawa permasalahan ini ke pihak berwajib. Dan keesokan harinya, aku sudah berada di dalam perjalanan menuju Bandung.
Hal yang sama terjadi di Bandung dan aku tak ingat apapun, hingga sampailah aku di Pekanbaru. Satu kota untuk satu kepala yang ia pecahkan. Sejujurnya aku suka tinggal di Pekanbaru, namun ia datang lagi ketika Mama memberitahuku bahwa Mama jatuh hati kepada seorang pria. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi dan terbangun dengan kepala diperban yang rasanya seperti pecah di rumah sakit, denganmu, dan Mama menunggu di sisi tempat tidur. Ia mengambil alih diriku sepenuhnya.
Nah, kurasa utangku sudah kubayar. Terima kasih telah membiarkanku masuk walau sangat sebentar. Mungkin baru 3—4 tahun lagi aku bisa menyusulmu di bangku kuliah, bahkan lebih. Ketika kamu sudah berhasil dan aku masih dirawat di sana, jangan sungkan menjengukku. Connecticut Psychatric Hospital. Kata Mama, keadaannya tidak sehoror namanya. Ya, apa sih yang bisa kita harapkan dari sebuah rumah sakit jiwa?
Sekali lagi, terima kasih karena telah membiarkanku masuk. Percaya atau tidak, kamu yang pertama dan membuat ia membiarkanku menikmati hidup agak lama. Semangat untuk UN dan ke depannya. Aku menyayangimu dan aku tahu, ia juga menyayangimu. Kami, di dalam diriku, menyayangimu.
                                                                                                        Diga Liana

***

Comments

Popular Posts