Sakralnya "Selamanya"

"Kita harus bersama-sama selamanya." Kira-kira begitulah cuplikan yang sering kudengar ditayangan sinetron-sinetron dan beberapa cuplikan adegan kehidupan nyata. 

Selamanya.. Bukankah selamanya terlalu jauh dan terlalu lama? Apakah kita akan saling memiliki rasa yang sama lima tahun mendatang? Atau bahkan masih saling mengenalkah?

Mungkin itu bedanya aku dengan kalian yang mentasbihkan kata selamanya pada setiap hubungan. Ini bukan tentang cara pandang hidup seorang pesimistis, aku hanya mencoba realistis. Mencoba tetap berada di atas tanah realita yang ketika aku kecil sempat membawaku ke ruang sidang perceraian orangtuaku. Beberapa hal yang aku pelajari kala itu, aku tidak lagi memiliki Ayah dan taplak mejanya memang berwarna hijau.

Sekelumit gambaran tentang sidang perceraian orangtuaku yang mungkin membawaku terlalu dekat dengan realita, bahwa hanya sebagian kecil, sangat kecil, yang dapat bertahan hingga selamanya. Toh, keberadaanku waktu itu pun tidak dapat menjadikan hubungan itu menjadi hal yang selamanya.

Jujur, aku masih merasa malu membicarakan cinta (atau yang lebih sering kusebut dengan kasih sayang, karena bagiku, kata 'cinta' lebih mengarah kepada penghalalan birahi, manusia yang membuatnya demikian) ketika perut ini masih disokong uang orangtua. Umurku pun baru delapan belas tahun. Masih anak ingusan menurut mereka, meski ketika aku terserang flu pun tidak sebegitu ingusan. Namun hal itu pula tidak menyurutkan langkahku untuk menjalin sebuah hubungan. Agak panjang kali ini, hingga dua tahun lamanya, dengan jarak terbentang yang terpisahkan Pulau Jawa.

Ingin rasanya menjadi sedikit pemimpi, pengkhayal, atau apa pun itu yang kalian sebut. Berimajinasi memiliki hubungan dengan orang yang sama untuk tahun-tahun mendatang hingga kami dewasa, memiliki kehidupan dan perangkatnya, dan tidur bersama di ranjang hangat hari tua, selamanya. Wah, indah sekali! Namun kali ini kita harus bangun dari mimpi siang bolong. Hidup tidak begitu lurus. Dan tak ada yang akan membiarkannya begitu lurus.

Satu hal yang membuatku tersenyum dari hanyut hilangnya hubungan-hubungan ini, "selamanya" yang mereka ucapkan hanya sekedar kata. Selamanya untukku bulan ini, belum tentu berarti untukku bulan depan. Yah, mau bilang apa? Hidup tetap berjalan meski pun aku dan kamu, kamu dan dia, dia dan dia yang lainnya, tidak berada dalam satu jalinan toh?

Tuhan saja tidak pernah menjanjikan kehidupan manusia 'selamanya' di bumi, lalu kenapa kita, para manusia, seakan mendahului Tuhan dan mengumbar-umbar kata "bersama selamanya"?

Comments

Popular Posts