Semua Tentang Pilihan
Kemarin aku pergi menghadiri sebuah pernikahan. Pernikahan sepupuku, adik sepupuku. Ya, kusebut dia adik karena umurnya tiga tahun di bawahku. Aku datang dan menyalaminya sebagai tamu. Bukan hanya kepadanya, tetapi juga kepada suaminya.
Aku dan dia bisa dibilang dekat, kami bertetangga ketika aku masih tinggal di Jakarta. Aku, Thalia, dan dia. Kami bertiga bermain bersama, tumbuh bersama. Dia yang umurnya paling kecil di antara kami. Namun pagi itu, dia sudah memilih untuk menjadi orang dewasa mendahului kami.
Ini bukan tentang caraku menilainya. Aku tahu cerita hidupnya. Dia memang sudah menjalani hidup sebagai orang dewasa jauh sebelum ia menikah.
Ketika selesai berfoto dan bercengkrama sedikit dengannya, aku kembali ke kursi tamu, dan terhenyak. Memikirkan kembali apa yang aku minta kepada orangtuaku ketika aku berumur lima belas tahun. Sebuah laptop. Aku meminta laptop ketika umurku lima belas tahun. Dan dia, meminta sebuah pesta pernikahan pada umurnya yang ke-15.
Hidup memang tentang pilihan. Aku memilih menjalaninya dengan mengejar cita-cita pendidikanku masih sebagai anak orangtuaku, dan dia memilih menjalaninya sebagai orang dewasa yang memulai cerita baru di hidupnya dengan orang lain. Namun pada akhirnya, kami berdua sama. Sama-sama menjalani apa yang kami yakini dan percayai.
Comments
Post a Comment