Hari Ayah
Dua belas November 2012. Entah sejak kapan tanggal tersebut dirayakan sebagai Hari Ayah Nasional. Entah kongres para pria pada tahun berapa yang kemudian ditetapkan sebagai harinya para ayah di Indonesia.
Kesetaraan gender mungkin kini juga mulai digaungkan pria. Mungkin akibat dari emansipasi yang berlebihan sehingga menyebabkan posisi terbalik, perempuan cenderung berada di atas dan pria di bawah, tidak lagi dalam posisi misionaris. Hingga pada akhirnya para pria cemburu karena posisinya sebagai seorang kepala keluarga dan seorang ayah tidak dirayakan. Mungkin.
Berbicara mengenai sosok ayah, sosok ini dulu sempat kuanggap mitos belaka. Antara nyata dan fana. Ya, dulu aku hanya mengenal sosok ayah hingga berusia lima tahun. Selanjutnya adalah mama, mama, dan mama. Bukan, bukan berarti aku memiliki tiga ibu, ibuku satu, ya mama.
Sosok pria yang kuhormati selama masa kanak-kanak adalah kakekku. Beliau berdarah betawi asli dengan perawakannya yang kurus, berwajah tirus, dan sangat serius. Ayah? Aku tidak mengenalnya hingga suatu hari ia datang lagi ke rumah. Usiaku mungkin sembilan tahun kala itu. Ia duduk di depan pintu melihatku kembali dari sekolah. Untuk beberapa saat, sambil melepas sepatu, aku memperhatikannya sejenak, mencoba mereka-reka raut wajah itu. Begitu masuk ke dalam rumah, ia memegang kedua pundakku dan berkata, "kamu masih ingat Ayah kan, Nak?" Aku hanya tersenyum sesaat dan menuju ke kamar untuk mengganti baju dan tidur siang.
Ingat. Tentu aku masih ingat. Toh darahnya mengalir di tubuhku, serta potongan bibirnya yang menempel di wajahku. Namun aku tidak mengenalnya, terlepas dari aku adalah anaknya. Yang aku kenal tentangnya kini adalah ia hanyalah sekadar pendonor sperma. Tidak lebih, tidak kurang. Aku tidak membencinya, sungguh. Aku hanya merasa tidak perlu bertemu lagi dengannya. Toh ia sendiri telah memutuskan untuk pergi dari rumah. Dan aku sama sekali tidak membencinya karena hal itu. Mungkin ia punya alasan lain sehingga harus pergi. Alasan yang tidak ia bagi dengan seorang pun. Alasan yang kiranya juga tak perlu aku ketahui. Sekali lagi, mungkin.
Namun sedikit banyak aku bersyukur. Jika saja ia tidak meninggalkanku, meninggalkan kami, aku tidak akan memiliki keluarga kecil yang kumiliki kini. Ayahku, ia pria biasa. Dan hebatnya, ia memperlakukanku seperti biasa, sama dengan adik-adikku yang lain yang pada tubuh mereka mengalir darahnya.
Selamat Hari Ayah, Yah. Baik untuk ayah yang darahnya mengalir di tubuhku, juga ayah yang merawat dan mendengarkanku.
Comments
Post a Comment