Rusuh

Hari ini saya menonton pertunjukkan sendrawatari berjudul Wara Senapati. Secara garis besar, pementasannya menceritakan tentang janji Dewi Amba untuk "menjemput" Bhisma agar mereka bisa hidup bersama di khayangan, sehingga Dewi Amba menitis sukmanya ke dalam raga Srikandi.
Singkat cerita, Srikandi berhasil membunuh Bhisma yang kala itu membantu Kurawa melawan Pandawa. Dan Dewi Amba memenuhi janjinya untuk "menjemput" Bhisma melalui Srikandi.
Pementasan ini spesial, karena ini merupakan sendrawatari pertama saya, juga saya sebenar-benarnya benar jatuh cinta kepada Arjuna. Tahu kan rasanya dari kagum lalu suka hingga cinta? Saya begitu terhadap Sang Arjuna. Awalnya kagum karena tariannya luwes, kemudian suka karena tariannya gagah, lalu seketika jatuh cinta saat mendengarnya menembang sambil menari. Dan keduanya gagah. Keduanya harmonis.
Tidak hanya itu, saya pun membawa misi saat hendak menontonnya. Misinya tak lain tak bukan adalah untuk memperhatikan para pemainnya sebagai referensi saya untuk berlakon di pementasan tahun depan kelak. Pementasan yang akan saya ikuti tahun depan mengharuskan saya untuk belajar menari, satu hal yang sangat baru untuk saya.
Kembali ke pementasan. Ketika ruang auditorium kembali terang--tanda pementasan usai--saya seketika depresi. Iya, depresi karena kemampuan menari saya bisa dikatakan mungkin hanya sebatas kotoran kuku kaki mereka. Iya, sampai segitunya.
Mendadak terjadi kerusuhan di otak saya. Di satu sisi otak bilang, "Lo yakin mau lanjut? Standarnya segitu loh!", sementara sisi yang lain tak kalah sewot dan menjawab, "Ya yakin lah! Mereka makan nasi juga kok!" Dan mereka terus saling membalas. Sakit otak saya.
Belum lagi tugas baru untuk mencari cara menyatukan "bentuk" dan "rasa". Ya, sementara kami akan menjadi mak comblang bagi Brecht dan Brook. Mereka harus kawin!

Comments

Popular Posts