Bebas?

Terhitung sudah tujuh belas bulan sejak aku pertama meninggalkan Pekanbaru. Satu tahun lima bulan sudah aku tinggal sendiri di kota ini, kota yang menuntutku untuk menjadi dewasa dalam segala aspek. Depok, Jawa Barat.

Awalnya kupikir akan sangat menyenangkan hidup jauh dari orangtua dan mengatur segalanya sendiri. Awalnya, ya, namun lama-lama jenuh juga. Ingin rasanya mengeluh untuk bisa kembali pulang ke rumah dan tidak lagi memikirkan hingga hal-hal terkecil terkait kelangsungan hidupku di kota orang. Namun sayang, berkuliah di sini dan hidup sendiri merupakan pilihanku dan aku diajarkan untuk tidak mengeluh atas apa yang telah kupilih.

Dulu aku seorang pendamba kebebasan layaknya remaja-remaja seusiaku. Ingin rasanya tidak dipedulikan orangtua. Mau ini, itu, mau pulang siang, sore, malam, mau belajar, tidur-tiduran, semuanya aku yang memutuskan. Hidup sendiri, kamar berantakan tidak ada yang protes, keluar jam berapa pun tidak perlu minta izin. Nyaman sekali hidup seperti itu agaknya setelah sedari lahir hingga SMA harus selalu mengikuti peraturan rumah, seperti harus sudah sampai di rumah sebelum adzan maghrib berkumandang.

Sekarang aku sudah mendapatkan apa yang kudamba, kebebasan. Semua alur mengikuti kemauanku. Tidak ada yang melarang maupun larangan. Tapi memang dasar kodratnya manusia tidak pernah puas, aku tidak puas dengan kebebasanku. Aku ingin dilarang, aku ingin dimarahi.

Aku tidak lagi begitu menyukai hari-hariku sebagai perantau yang tinggal sendiri. Bahkan aku bisa merasa terlahir dari perut bumi begitu saja tanpa memiliki keluarga dan sanak saudara ketika aku harus makan malam sendirian. Tak jarang pula demotivasi menyerangku. Dan ketika demotivasi itu kambuh, aku bisa tidak bergerak dari kasur seharian. Kebebasan nampaknya berkawan lama dengan kesepian. Mereka bernostalgia dalam keseharianku di kota orang. Aku ingin pulang dan menjadi anak sulung yang diperlakukan seperti bungsu.

Tapi semuanya sudah terlanjur. Membuat keputusan menjadi penanda aku telah dewasa, atau setidaknya, dianggap sudah dewasa.

Comments

Popular Posts