(Cerpen) Kulit Asli

Terhitung tiga minggu sudah aku bekerja. Aku sangat menikmati pekerjaanku sebagai seorang desain grafis di tempat baruku ini. Kantor tempatku bekerja memang bukanlah sebuah gedung pencakar langit yang terletak di kawasan central bussiness district, melainkan berupa sebuah rumah biasa di kawasan Sudirman. Sesekali aku masih bisa mendengar deru kereta api listrik yang sedang lewat.

"Selasa depan ikut saya bertemu klien, ya." Sebuah suara berat memecah fokusku dengan segera. Atasanku, perawakan tinggi, berambut agak gondrong berbelah semi tengah, berhidung mancung dan ditunjang dengan alis mata serta garis pipi yang tajam, namun tetap bergaya necis di umurnya yang sudah sekitar 40-an dengan kemeja yang dilipat acak lengannya.

"Iya, Pak," sahutku dengan wajah yang kubuat sesantai dan seramah mungkin. Ini kali pertamaku berbicara langsung dengan atasanku yang konon jarang berada di kantor.

"Sebaiknya jangan bawa kendaraan dulu, takutnya repot."

***

Aku baru saja hendak merebahkan tubuhku ke kasur, meski dengan rambut yang masih lepek selepas mandi. Kubilang baru saja karena aku baru sempat duduk saat adikku, Salya, membuka--hampir mendobrak--pintu kamarku.

"Bang, mana katanya mau beliin aku pulsa?" Katanya sambil menarik lenganku sementara tubuhku masih berusaha merebahkan diri dengan sempurna.

"Gajian aja belum, udah ditodong aja. Ambil, tuh, di dompet Abang. Dompetnya di tas, resleting kedua." Sementara Salya merogoh tasku, aku, yang tak berhasil merebahkan diri, melangkah ke luar kamar dan duduk di sofa yang posisinya pas di samping pintu kamarku. 

Dengan wajah sumringah Salya membawa dompetku keluar kamar, memberikannya padaku lantas bersandar di pundakku. Sambil memilin senyum kemenangan ia memperhatikanku yang sedang memilah-milah lembaran rupiah.

"Ih, dompetmu itu, Bang!" Suara nyaring Ibu memaksa Salya dan aku mencari wajahnya. Ibu berjalan bagai kilat meski dengan memegang cangkir yang kuyakin berisi teh di tangan kanannya.

"Kenapa dompetku?"

"Eh recehan ini untuk besok Abang ke kantor. Abang mau ketemu klien makanya ga bawa motor dulu besok. Minta Ayah dulu sana!" Aku segera menutup dompetku dan meletakkannya di paha.

"Rese lu, Bang!" Salya beranjak dengan kaki yang dihentak-hentak hingga ke kamarnya di lantai atas.

Ibu kembali ke ruang tv dan menggantikan posisi Salya di sampingku. Ia meraih dompetku dan membukanya sembari menaikkan alis kanannya. "Tuh masa udah kerja dompetnya lusuh, bolong-bolong gini. Nanti kalo uangnya atau kertas-kertas pentingnya jatuh gimana? Penampilan juga loh. Apa perlu Ibu beliin?" Ia kemudian beranjak lagi menuju dapur.

"Iya, ga usah, Bu. Nanti aku beli sendiri kalo gajiku udah turun, deh." Sahutku sambil meluruskan kaki ke sepanjang sofa.

***

Aku mencoba mematut diri dengan refleksi seadanya di depan monitor komputerku. Ah, kenapa tadi tak kucukur saja kumis-kumis tipis tanggung ini, ya?

"Nar, yuk! Kamu bisa nyetir 'kan?" Dengan gaya ala film-film drama Amerika ia melemparkan kunci mobilnya ke arahku. 

Aku meraih tas ranselku dan mengikutinya ke parkiran mobil. Aku berjalan ke arah kursi supir sementara Pak Gusti, nama atasanku, mengambil posisi di sebelahnya.

Aku menyalakan mesin mobil dan memasang sabuk pengaman. "Ini ke mana, Pak?"

"GI. Nanti santai aja. Ini bukan meeting banget, masih penjajakan, makanya saya ajak ketemuan di coffee shop. Biar bisa ngobrol santai."

***

Pertemuan hampir selesai. Kami bertiga--aku, Pak Gusti, dan klien kami--berdiri dan berancang-ancang untuk bersalaman. "Iya, Pak, nanti kalau ada apa-apa bisa hubungi saya aja." Aku merogoh dompetku di saku belakang celana. "Ini kartu nama saya," kataku sembari memberikan selembar kartu nama.

Ia memperhatikan namaku agak lama hingga akhirnya dengan sedikit tertawa berkata, "Nara, ya? Dompetmu menarik perhatian saya. Pasti kesayangan, ya, sampe ga diganti-ganti?"

Aku tersipu. Salah tingkah. "Oh.. ah, itu, iya, Pak, belum kepikiran, Pak." Kenapa malah dompetku yang kau perhatikan?

"Ya sudah, saya duluan, ya. Semoga kerjasama ini lancar."

"Iya, Pak, terima kasih atas penawarannya." Sahut Pak Gusti sambil menawarkan tangannya untuk bersalaman dengan sang klien.

Selesai pertemuan tersebut Pak Gusti melanjutkan perjalanannya sendirian. Hendak menjemput anaknya dari tempat les gitar katanya. Aku urung menumpang. Karena selain tidak searah, hari pun masih terlalu pagi untuk sampai di rumah.

Aku melepas dua kancing teratas kemejaku dan melipat bagian lengannya hingga ke siku sembari mataku melihat-lihat etalase-etalase toko. Tanpa komando aku sudah sampai di unit pria pada departement store yang tersedia di pusat perbelanjaan itu. Untung gajiku sudah keluar kemarin. Sekalian lihat-lihat dompet.

Aku terhenti di salah satu etalase yang memajang beberapa dompet. Mataku langsung tertuju pada sebuah dompet kulit berwarna hitam polos yang disirami cahaya lampu toko. Elegan sekali. Tanpa basa-basi aku meminta seorang pramuniaga yang kebetulan lewat di belakangku untuk mengambilkan dompet itu. Setelah memanggil seorang pramuniaga lainnya yang mungkin lebih bertanggung jawab untuk merek tersebut, ia mengambilkannya dan memberikannya padaku. 

Aku menyentuh bagian depan dompet itu dengan jari jempol kananku. Ada lambang merek di sudut kiri bawah bagian dompet itu yang terbuat dari semacam kuningan. Fossil. Kemudian aku membuka dompet tersebut setelah puas mengamati sisi depan dan belakangnya. Ada beberapa bagian yang sisi dalamnya dilapisi kain satin bercorak sederhana yang juga berwarna hitam, senada dengan beberapa bagian lainnya yang ditutupi kulit. Slot kartunya pas untukku yang tidak membutuhkan terlalu banyak. Di tempat penyimpanan uangnya terdapat sebuah bordiran kecil yang tidak begitu mencolok bertuliskan Genuine Leather. Di salah satu slot kartunya terdapat sebuah kartu yang mendeskripsikan tipe dompet, serta harganya. Aku mencoba menghitung kasar menggunakan mental aritmatika yang sempat beberapa tahun kupelajari. Seperlima gaji pertamaku.

***

Aku mendudukkan diri di depan meja belajarku sambil mengeringkan rambutku dengan handuk. Sementara tangan kananku mengacak-acak rambut yang masih basah, tangan kiriku meraih tas ranselku dan merogoh-rogoh isinya. Setelah mendapatkan yang kucari, aku memberhentikan aktivitas mengeringkan rambutku, kemudian terfokus kepada plastik kecil yang kini ada di atas meja, di hadapanku. Aku beranjak ke arah pintu dan memeriksa celanaku yang tergantung di belakangnya. Aku kembali membawa dompetku yang tadi sempat membuatku salah tingkah.

Sejenak aku memperhatikan dompet lusuhku itu. Warnanya memudar menjadi abu-abu. Aku sudah memakainya sejak SMA. Tak heran jika parasnya sudah lusuh disertai dengan penampakan benang-benang yang berjuntaian. Dompet ini hadiah pemberian salah satu sahabatku yang kini tinggal di kota yang berbeda denganku. Hadiah ulang tahun, aku ingat sekali. Dan sejak saat itu pula tidak terpikir olehku untuk menggantinya. Tak ada alasan, hanya tidak terpikir untuk mengganti saja.

Aku mulai mengeluarkan isi dompetku. KTP, kartu ATM, SIM, beberapa struk, foto diri--jika sewaktu-waktu dibutuhkan mendadak, dan beberapa lembar uang. Dengan cepat aku beralih ke bungkusan yang sebelumnya kutinggalkan. Setelah membuka kotaknya dan mengambil isinya, aku tersenyum simpul. Pilihanku tidak salah. Ini memang sederhana namun elegan. Keren. Aku lantas memasukkan semua isi dompet tersebut. Sambil menutup dompetnya aku kembali tersenyum puas dan kusimpan kembali ke dalam ransel sementara dompet lamaku kusimpan di laci meja belajarku. Aku pun beranjak ke tempat tidur.

***

Pertemuan kali ini menyita waktu yang sangat lama. Sangat lama bahkan aku menyesali kepatuhanku kepada atasanku untuk tidak membawa kendaraan hari itu. Jalanan ibukota sudah mulai sepi. Sesampainya aku di Stasiun Sudirman, aku mampir terlebih dahulu ke ATM yang ada di sana karena uang tunaiku menipis.

"Kereta terakhir jurusan Bogor akan segera tiba. Sekali lagi, kereta terakhir jurusan Bogor akan segera tiba."

Ah, keretaku! Dengan tergesa-gesa--cenderung setengah berlari aku mencari kartu keretaku di dompet. Bersamaan dengan uang tunai yang baru kuambil dan kartu ATM, aku menaruhnya di kantong kemejaku sebelah kiri, sementara dompetku kusimpan di saku celanaku bagian belakang.

Sesampainya di Stasiun Pasar Minggu, aku segera memberhentikan sebuah taksi dan pulang. Selagi duduk kurasakan hal yang aneh. Seperti mengganjal namun tak mengganjal.

Rasanya ada yang hi.. dompetku!

Dengan posisi bokong yang sedikit kunaikkan, aku meraba-raba bagian belakang celanaku. Rata, tidak ada apa-apa. Aku meraih tas ranselku dan mengaduk-aduk isinya di setiap bagian. Nihil. Dompetku tidak ada di mana-mana. Ketika sampai di rumah, aku langsung menuju kamarku tanpa basa-basi. Begitu penasarannya, aku mengeluarkan semua isi tasku di atas kasur. Semua sudah berserakan, namun tanda-tanda keberadaan dompetku masih belum ada. Aku meraba-raba kembali bagian belakang celanaku, kemudian menyisipkan tanganku ke dalam kantong bagian belakang. Bolong. Kantong celana bagian belakangku robek dengan rapi.

Dicuri ternyata.

Aku merebahkan diriku di atas tumpukan barang yang berserakan di atas kasur. Dompet seharga seperlima gajiku raib. Belum ada dua minggu dompet itu kumiliki. Susah memang jika tak rezeki. Aku beranjak menuju meja belajar dan membuka lacinya. Aku mengambil dompet lamaku. Iya, aku akan kembali memakaimu lagi.

Sambil duduk aku mengeluarkan sisa-sisa yang masih bertahan dari kantong kemejaku. Kartu ATM dan kartu kereta. Kedua kartu itu kumasukkan ke dalam slot kartu dompet lamaku. Bukannya merasa marah kepada sang pencuri, aku malah merasa iba.

Kasihan pencuri itu. Sudah bersusah payah ia menyilet celanaku dengan rapi demi mendapatkan dompetku, ia tak mendapatkan apa-apa kecuali KTP, SIM, dan beberapa pas fotoku, dan ya sedikit uang tunai, yang benar-benar sedikit. Namun semoga ia dapat mengerti bahwa dompet yang sekarang ia miliki adalah dompet yang dilapisi kulit asli. Semoga itu bisa menghibur hatinya yang mungkin lebih kesal daripada yang kurasakan sekarang. Semoga kau lekas menyadari bahwa dompet itu bukan sembarang dompet murahan, semoga kau mengerti cara menjaganya.

Aku berjalan menuju kamar mandi sambil melepas satu per satu kancing bajuku, kemudian melakukan sedikit peregangan. Agak panjang hari yang kulewati kali ini. Ah, besok aku harus ke kantor polisi mengurus surat kehilangan!

***

Comments

  1. Ha! A short story by a literature student. How you doing, Astrid? It's me Fira. Mind to catch up? 822 1857 4160 (text me please)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Goshhhh it's been awhile! I'm great! Sorry I just happen to see this comment. Will text you asap :D

      Delete

Post a Comment

Popular Posts