Samsaraku; Samsara Usai

"Pos terakhir dipublikasikan 21 Januari 2014", begitu kata dasbor blog saya. Oh, apa kabar? Semoga baik dan diliputi kebahagiaan. 

Saya? Saya bisa jadi baik, bahagia, bisa juga sedih, berantakan. Ya tergantung bagian mana dari diri saya yang kalian kenal dan kalian maknai. Saya pun bingung jika ditanya kabar. Dibilang sedih juga saya masih bisa tertawa, dibilang bahagia juga masih ada yang membebani pikiran. Relatif memang, tergantung cara pandang masing-masing kita.

Oh iya, omongan saya yang barusan jangan terlalu dipikirkan dan dianggap serius. Saya kurang suka berpikir dengan serius, apalagi mengenai hal-hal yang terlalu filosofis. Yang barusan terucap di kepala dan ditik di sini pun saya kurang paham arahnya ke mana. Ayo, jangan terlalu serius!

Hari ini saya tidur sebelas jam. Informatif sekali, ya? Sebenarnya hal yang melatarbelakangi sebelas jam saya tidur lah yang informatif, setidaknya bagi saya sendiri.

Jadi begini, terhitung sejak awal November 2013 lalu saya bergabung dalam tim artistik pementasan Teater Pagupon yang bertajuk Samsara sebagai pemain. Awalnya saya sudah lebih dulu bergabung di tim manajerial untuk bagian ticketing. Sebelum bergabung dengan tim artistik, saya bersikeras untuk rehat berlatih teater dan mencicipi hal lain di luar kampus, makanya saya pilih ticketing yang kiranya hanya akan menyita sebulan untuk sibuk-sibuknya. Saat itu saya sedang gemar-gemarnya mengajar (dan mendapat gaji) di beberapa tempat dan tipe bimbingan belajar, serta dipanggil "Kak" oleh anak-anak SMA (yang kebanyakan) rendah motivasi.

Namun memang godaan serta ego terlalu kuat menguasai saya. Saya ingat sekali hal yang mendasari keputusan saya akhirnya ingin menjadi pemain dalam produksi kali ini adalah rute Transjakarta yang tidak biasa. Setiap akhir pekan saya selalu pulang ke rumah tante di daerah Cengkareng. Rute transportasi yang selalu saya pilih adalah commuter line dari Stasiun UI ke Stasiun Juanda, kemudian dilanjutkan dengan bus Transjakarta dari Juanda ke Kalideres. Kali itu bus Transjakarta yang saya tumpangi memutar terlebih dulu ke arah Pasar Baru. Saya terpaksa melihat Gedung Kesenian Jakarta yang terletak persis di seberang haltenya.

Ini nih tempat main Pagupon selanjutnya? Terus gue cuma duduk di luar ruang pertunjukan jualin tiket padahal dikasih kesempatan untuk jadi yang ditonton?

Dang! Selesai berakhir pekan saya kembali ke Depok, langsung menemui Pak Sutradara dan meminta izin bergabung jadi pemain. Sesederhana itu. Aneh? Ambisius? Kekanak-kanakan? Ayolah, siapa sih yang ga pengin berdiri di bawah spotlight? Apalagi spotlight di gedung yang megah 'kan. Hahaha.. 

Dan jadilah 4,5 bulan saya berlatih untuk pementasan ini. Latihan produksi ini adalah latihan terunik dan ternyaman sejauh ini yang pernah saya rasakan. Terunik karena porsi berlatih tari sangat banyak dibanding porsi berlatih naskah dan lakon. Dari awal belajar dan menahan mendak, lalu debek-gejuk, ngiting, seblak, alusan, gagahan, cakilan, meski bisa dibilang kulit luarnya saja. Ternyaman karena terutama di jajaran artistik, satu sama lain saling kenal.

Perkenalan satu sama lain dimulai ketika latihan alam di Kepanjen, Malang. Saya sempat berpikir akan mati seketika karena jadwal latihan alamnya diadakan pas sehari setelah acara inisiasi jurusan selesai. Angkatan saya tahun ini bertanggung jawab untuk konsumsi, kasarnya, makanan dan minuman harus selalu ada, pesanan harus selalu tersedia. Tiga hari dua malam kami bergantian mengisi dapur dengan waktu istirahat yang sangat terbatas. Sehari setelah acara inisiasi selesai, saya dan beberapa teman langsung berangkat menuju Malang menggunakan kereta selama dua puluh jam perjalanan. You read it right, 20 jam!

Saya pikir latihan alam ini akan disisipi kata 'neraka' di tengahnya. Apalagi ketika jadwal latihan menginstruksikan pemain bangun pukul empat pagi untuk sekadar stretching, olah vokal dan pernapasan di tengah sawah. Tapi ternyata itulah liburan yang mengisi liburan saya. Tidur tumpuk-menumpuk bak sarden kalengan, berebutan kamar mandi, nonton Sponge Bob pagi-pagi dan bareng-bareng, jalan-jalan sambil jajan, main di sungai, dan lainnya yang akhirnya bikin perjalanan pulang dari Malang tidak sekaku perjalanan berangkat menuju Malang. Rasanya seperti liburan ke rumah paman bersama teman-teman (yang sangat banyak)!

Selesai latihan alam di Malang, latihan intensif pun dimulai. Kira-kira sekitar dua minggu setelah latihan alam selesai, proses casting baru dilaksanakan. Dan jengjeng! Saya mendapatkan peran Ratri, pemudi lombok-lombokan yang gemar menari dan gampang jatuh hati. Jujur, ini jauh di luar ekspektasi saya. Selama latihan reading saya selalu menghindari dua tokoh, Ratri dan Sekar. Dua tokoh ini menuntut pemain untuk bertindak sangat feminim. Tapi ya, sutradara adalah tuhannya pementasan, kita bisa apa selain menerima.

Ratri adalah tokoh dengan karakter periang dan kekanak-kanakan. Pak Sutradara memberikan saya PR untuk membuat orang lain senang ketika melihat saya. Dan sungguh, itu adalah PR yang sangat sulit, terlebih wajah bawaan saya yang katanya selalu nyolot dan ngajak ribut. Tuntutan lainnya adalah menari. Ratri mendapatkan dua porsi tari individu dalam pementasan ini. Ya, tari individu dengan spotlight hanya tertuju padanya. Saat itulah saya menarik niatan saya untuk berada di bawah spotlight gedung megah. Tapi lagi-lagi sudah setengah jalan dan sangat terlambat untuk mundur.

Tuntutan lain selain tuntutan lainnya yang saya sebutkan adalah tari pasangan. Diceritakan bahwa Ratri adalah (semacam) kekasih Ekalaya. Mereka bertemu, bertengkar, lalu jatuh cinta dan menari. Tantangan terberatnya adalah bagaimana caranya agar penonton tahu bahwa Ratri dan Ekalaya saling jatuh cinta padahal tatapan kami seperti hendak saling membunuh. Rasa, rasa, rasa. Rasa yang saya dapatkan ketika menari adalah lelah. Bukan cinta, bukan apapun. Namun mungkin ini yang disebut dengan belajar. Belajar adalah proses. Proses mencari dan mengenali. 

Selain menjadi Ratri, saya (dan beberapa pemain lainnya) juga berperan menjadi pasukan dalam sebuah adegan. Ya, kami memang dituntut untuk pintar memilah-milah emosi dan karakter, kapan bijaksana bagai raja, kapan lembut bagai ratu, kapan songong bagai anak kerajaan, kapan riang bagai remaja, dan kapan tegas dan mengancam bagai pasukan. 

Dan akhirnya, 14 dan 15 Maret lalu kami menampilkan hasil proses belajar kami, bagi saya selama 4,5 bulan, dan lainnya ada yang bahkan 9 bulan. Kami bersenang-senang, kami berpesta. Bukan kapasitas saya untuk menilai hasil, tapi saya yakin tidak ada secuil pun penyesalan dalam diri karena belum mengeluarkan yang terbaik. Setelah ini tidak akan ada lagi terlihat sampur di dalam tas maupun beberapa orang membawa tongkat di kawasan kampus. Ada awal, ada akhir. "Lingkaran kehidupan harus terus terjadi. Tak terelakkan, tak terpatahkan", begitu kata Dalang. Terima kasih untuk semua pelajarannya. Semoga kita selalu diberi kesempatan untuk terbang bebas.

Panggung gelap dan tirai ditutup. Let us take a bow and keep our shine to glow.

Dokumentasi oleh Pagi Buta FIB UI

Comments

  1. Aa... Pengalaman yang menarik the. Bacanya aja uda seru,apalagi ngejalaninnya :D
    [ Dani ]

    ReplyDelete
  2. dulu sudah baca ini, terus sekarang baca ini lagi, ahahaha. ah...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts