Kakekku Orang Betawi

Di pagi buta ini aku masih terjaga. Sambil (dengan terpaksa) menikmati dengkuran teman sekamar, aku membolak-balik sebuah buku. Novel tepatnya. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir menyentuh novel dan membiarkan diriku tenggelam di dalamnya. Jangan heran, kuliahku memang sangat berkaitan dengan kesusastraan Indonesia, tapi (entah ini pembelaanku saja, yang pasti keadaannya ya sedemikian ini adanya) selama satu semester ini aku tak sempat membaca satu novel sekalipun. Jangan ditiru, sesibuk apapun, bacalah sesuatu. Terutama karya sastra. Konon itu bisa menyeimbangkan alam pikir dan batinmu (menurutku).

Novel yang kubaca kali ini pun bukan novel yang baru pertama kali kubaca. Novel ini pernah kubaca sekitaran tahun pertama kuliah. Tahun-tahun menyesuaikan diri dengan kegiatan membaca karya-karya sastra. Pun saat ini aku membacanya karena tuntutan tugas akhir untuk mata kuliah "Gender dalam Sastra". Ya, tentulah tugas akhir mahasiswa semester lima Program Studi Indonesia tak lain tak bukan adalah menganalisis data yang kemudian dijadikan makalah. Tentu konflik-konflik dalam novel ini harus kukaitkan dengan permasalahan gender, sesuai dengan mata kuliahnya. Dan percayalah, membaca sesuatu atas dasar tuntutan tidaklah senikmat membaca atas dasar niat. Hanya sekadar menuntaskan kewajiban, singkatnya.

Novel kubaca kali ini berjudul Kronik Betawi. Mengenai siapa pengarangnya dan bagaimana sinopsisnya, silakan cari sendiri. Maaf, karena selain tulisan ini bukanlah sebuah resensi, aku juga tidak sedang begitu ingin mengarahkan siapa pun untuk membaca apa pun. Baca yang menurutmu seru!

Kembali lagi ke Kronik Betawi, sesuai dengan judulnya, novel ini menyajikan fragmen-fragmen kehidupan penduduk pribumi Jakarta, orang Betawi. Ini juga yang membuatku sangat tertarik untuk membacanya dari awal. Selain berlatar belakang pada era Pak Harto, penggunaan bahasa Betawi pun sangat-sangat-sangat-sangat ditonjolkan sang penulis. Meski kosakatanya tidak sebetawi itu, namun penulis menyajikannya dalam bentuk-bentuk dialek yang "Ya, ini Betawi punye gaye!"

Untuk novel ini, aku tidak menemukan kesulitan berarti dalam memahami ceritanya meski dengan penggunaan dialek lokal yang amat kental. Aku lahir dan besar di Jakarta. Sempat tinggal di Jelambar, dan kebanyakan tinggal di Kalideres. Kedua tempat tersebut memiliki atmosfer yang berbeda. Di sebuah gang kecil nan padat di Jelambar kala itu, tetangga-tetanggaku lebih sering menggunakan bahasa Jawa satu sama lain. Kini aku mengenalnya dengan istilah kawasan kaum pendatang. Lain halnya dengan Kalideres. Kalideres terletak di perbatasan Jakarta dan Banten. Bisa dikatakan "kerak"-nya Jakarta. Dan seperti kebanyakan penduduk pribumi yang terpinggirkan lainnya, Kalideres sarat akan kebetawiannya.

Di sana aku menghabiskan sebagian besar masa kecilku. Di rumah nenek dan kakek. Rumah itu juga terletak di dalam gang yang kecil, tipikal perkampungan. Uniknya, 2/3 keluarga yang menempati masing-masing rumah, apabila ditarik garis keturunannya, merupakan keluarga. Inilah yang membuat gang kecilku itu sarat dengan kekerabatannya yang erat. Kekerabatan Betawi dalam hal ini.

Aku tak paham pastinya kakekku (yang merupakan orang asli Betawi) itu anak siapa dari anak siapa dari garis keturunan siapa generasi berapa. Yang pasti kakekku tergabung dalam klan Betawi Kalideres.

Kakekku, Marta, atau yang biasa dipanggil Bang, Cing, Engkong Marta, atau Bang, Cing, Engkong Haji Marta, merupakan salah satu sosok laki-laki yang berperan penting dalam hidupku. Kalau bukan karenanya, aku tidak akan bisa bernyanyi (ia sering berkaraoke di rumah), memiliki mainan-mainan mahal (skuter, mobil kontrol, tamiya, mobil-mobilan tanpa bahan bakar maupun listrik, sepeda, bahkan walkman), dan mengendarai motor.

Novel ini sukses membawaku ke masa-masa silam saat hidupnya menghidupiku. Kakekku, dibalik perawakannya yang tinggi dan kurus, berkulit gelap, bertulang pipi tajam, serta mata yang bulat melotot, merupakan laki-laki yang penyayang dan penuh spontanitas.

Setiap sore, ia akan menyuruhku dan Thalia mandi, kemudian ia ajak kami berkeliling dengan motornya yang merupakan matic generasi super pertama. Kalau ia sedang dapat proyekan, ia akan mengarahkan motornya ke sebuah mal di dekat rumah kami. Di mal itu ia dan kami (aku dan Thalia), cucu-cucunya, seringkali mengunjungi sebuah restoran ayam cepat saji. Ia begitu suka mengajak kami makan di sana sampai-sampai mendapatkan kartu anggota dan voucher yang lumayan banyak. Setelah itu ia akan mengajak kami bermain ke arena permainan. Hanya kami bertiga.

Tidak jarang pula ia pulang ke rumah dengan membawa sesuatu. Ya, salah satu yang kutunggu ketika aku masih kecil adalah kepulangannya ke rumah. Berangan-angan akan barang apa lagi yang akan ia bawa pulang. Dan kebanyakan, barang-barang itu tidak mengecewakanku sama sekali. Aku dan Thalia terhitung anak-anak yang paling cepat memiliki mainan yang baru keluar di pasaran, bahkan sebelum mainan tersebut menjadi tren di kalangan anak-anak.

Pernah suatu ketika, kakek mengajak kami mengunjungi Pekan Raya Jakarta. Kali itu ia mengajak Puput, sepupuku yang terhitung cucu (jauh) yang juga merupakan tetangga kami turut serta. Berempat kami pergi menuju ke sana menggunakan taksi yang ia berhentikan di depan gang.

Setelah membeli tiket dan masuk ke kawasan PRJ, aku sumringah melihat keramaian, terutama jajanan. Muncul ideku untuk "menumbalkan" Thalia agar aku mendapatkan yang aku inginkan. Kerak telur sasaranku kali itu. Kira-kira begini ucapanku, "Thal, bilang Kakek gih beliin kerak telor. Enak tau kayaknya, kan itu juga susah ketemunya kalo di luar." Bagai gayung bersambut, Thalia langsung memberitahu kakek akan hal itu. Belum pula Thalia menunjuk lokasi pedagangnya, kakek memberinya sebuah jitakan yang menurutku keras.

Jujur, hingga kini, setelah belasan tahun, aku masih merasa bersalah terhadapnya karena menjalankan ideku. Dengan wajah cemberut Thalia menjaga jarak jalannya denganku. Tak lama dengan otot-otot lehernya yang menyembul kakek pun berkata, "Noh toilet noh! Buru! Rame orang!". Kami, ketiga cucunya yang masih kecil-kecil keheranan. Toilet? Masih dengan ototnya yang menyembul kakek menyambung, "Thal eh, buru! Tuh toilet! Lu katanya mau berak?!" Sangat mengejutkan karena ternyata kakek salah mendengar kerak menjadi berak.

Itulah satu-satunya momen kami, cucu-cucunya ini, bisa dengan puas menertawai dan mengolok-olok kealpaan pendengarannya. Bahkan ketika kami memberitahu nenek, mama, tante, dan om di rumah, lengkap dengan reka adegan kakek menjitak Thalia.

Di lain waktu, ketika aku sudah pindah ke Pekanbaru, kakek merupakan "orang Jakarta" yang paling sering berkunjung ke rumah. Kedatangannya pun selalu kunantikan. Apalagi kalau bukan karena rutinitas berkeliling kota dan jajan. Sore itu, ketika aku baru saja selesai mandi, terdengar di luar rumah suara motor yang sedang dipanaskan. "Asyik, jalan-jalan lagi!" Begitu kiranya otakku merespon. Setelah rapi, pergilah aku dan kakek jalan-jalan. Tidak lama, kakek berhenti di sebuah toko elektronik.

Dugaan pertamaku adalah ia ingin membeli lagi sebuah teve. Namun alih-alih bertanya kepada empunya toko, kakek mendorong pundakku dan berucap (kira-kira), "Udah, katanya mau cari radio ono noh yang kecil yang bisa dibawa-bawa? Tanya noh berapaan!" Aku yang kala itu masih kelas 6 SD sudah memiliki apa yang tidak biasanya dimiliki oleh anak-anak seusiaku (di Pekanbaru), sebuah walkman yang benar-benar seri walkman dari Sony, dibelikan oleh kakek.

Kehilangan kakek merupakan salah satu pukulan tersakit yang pernah kualami. Bahkan di sisa-sisa akhir hidupnya, kakek, dengan tubuh terbaring dan perawakan bak bunga layu, serta suara yang tak lagi melengking nyaris tak terdengar, sempat-sempatnya bertanya, "Ujian udah selesai?". Itu ia katakan ketika aku baru saja sampai dari Pekanbaru untuk menengoknya.

Penyesalan terbesarku terhadapnya adalah jadwal penerbangan pulang ke Pekanbaru yang berbeda satu jam saja dengan kepulangannya ke ketiadaan. Jadwal tersebut merupakan pilihanku sendiri karena menyesuaikan dengan jadwal ujian. Telepon pertama yang kudapat ketika aku baru saja sampai di rumah benar-benar membuatku ambruk dan menangis sejadi-jadinya.

Kakekku, Kakek Marta itu, memang penuh dengan spontanitas. Kadang aku sendiri bingung menghadapi kejutan-kejutannya yang terbilang ajaib. Hingga kini aku percaya, keberadaannya diatur Yang Maha Penyayang untuk menggantikan sosok ayah yang kala itu tak kupunya. Dan ketika aku sudah memiliki seorang ayah lagi, yang bisa menggantikan posisinya, Yang Maha Penyayang membiarkannya beristirahat panjang.





Sebuah kutipan dalam novel yang sangat mengingatkanku kepada kakek,
"Gua kepret, cantengan lu!" kata lelaki tua itu.
Memang tidak mencerminkan yang kuceritakan di atas, namun kutipan tersebut secara otomatis mengingatkanku dengan jargon khas Kakek Marta, "Lu buandel-buandel lu, gue tempheleng lu!"

Atid umurnya udah dua puluh tahun sekarang, Kek, kuliahnya di UI.

Lia umurnya udah delapan belas tahun, Kek, baru mulai di Unpad.

Ean udah kelas empat, Kek, udah bisa naik sepeda yang tinggi.

Malik umurnya udah enam tahun, Kek, udah pinter protes.

Nah, Kakek nambah empat cucu lagi, Kek. Rafa, adeknya Ean sama Atid, terus Aira, anaknya Om Nana, terus Zamar, adeknya Malik, sama Aviana, adeknya Aira.

Comments

Popular Posts