(Cerpen) Kotak dalam Pekat
“Jadi
kapan aku bisa bertemu keluargamu, Sayang?” tanyanya sambil menyeruput kopi
yang belum lama datang. Aku melihatnya tersenyum menatapku. Tatapan itu tak
henti-hentinya membuatku tersesat. Anehnya, aku tidak keberatan tersesat,
bahkan sudah empat tahun lamanya.
“Sayang?
Kamu tentu tahu aku pada akhirnya harus bertemu ayah dan ibumu kan?” Ia mulai
meninggalkan kopinya dan berfokus kepadaku.
“Ayah
dan Ibu, ya? Erm…” Yang kutakuti akhirnya datang. Topik pembicaraan ini
akhirnya tidak terelakkan. Ayah dan ibu? Kenangan tentang mereka sepertinya
kusimpan di dalam kotak yang entah kusembunyikan di otak bagian mana.
Sementara
ia meraih tanganku dan menggenggamnya, otak menuntunku ke ingatan-ingatan yang
berada di dasar kepala. Ayah? Ia pergi ketika aku masih kecil. Ketika itu ia
berpamitan untuk berangkat kerja kepadaku dan ibu. Aku mencium tangannya
seperti biasa, tapi ia memelukku, sangat tidak biasa. Ia juga memeluk ibu dan
mengecup keningnya. Bukanlah hal yang biasa ia lakukan setiap kali berangkat
kerja. Dan di ujung hari, ia juga tidak kembali, tidak seperti biasanya. Tanpa
membawa baju, tanpa meninggalkan apa pun di rumah, bahkan tanpa kejelasan
hingga kini masih hidup atau tidak.
Ibu?
Sudah lama sekali aku tidak berbicara dengannya sejak aku keluar dari rumah
untuk berkuliah, padahal dahulu kami sangat dekat. Kesibukanku, kesibukannya,
tidak pernah menemui pergesekan. Mungkin aku yang durhaka karena
mengabaikannya. Namun entahlah, kami seringkali berseberang pendapat sejak aku
keluar dari rumah. Lebih baik tidak bersapa dari pada kemudian bertikai,
pikirku. Kehadiran nyatanya sebatas bertambahnya nominal angka pada rekening
tabungan setiap bulan ketika aku kuliah. Ia tidak pernah benar-benar ada.
Kurasakan
suhu tubuhku meningkat. Kepalaku tiba-tiba pusing. Ah, inilah mengapa aku tidak
pernah bisa memaksakan diri untuk menyelami apa-apa yang sudah sengaja kusimpan
di kedalaman yang sebegitu pekat.
“Pulang,
yuk. Kok tiba-tiba aku enggak enak badan, ya?” Semoga wajah yang kutampilkan
benar-benar wajah memelas. Aku ingin pulang saja dan tidur. Aku tidak ingin
berpikir tentang apa pun. Baik tentang ayah, nasi goreng buatannya, bahkan kaos
kaki yang ia tinggalkan di atas meja belajar malam sebelum ia menghilang, atau
ibu yang seringkali tidak mengangkat teleponku hingga akhirnya kulakukan yang
sama terhadapnya..
***
Aku
membuka mata dan mendapati Giri mendekapku. Ia mematikan AC dan lampu. Agaknya
ia pun tertidur. Aku mencoba bergerak dan melepaskan dekapannya. Suhu ruangan
ini begitu panas dan gelap. Aku tidak pernah berteman baik dengan gelap.
“Kok
bangun?” katanya sambil menyeka sudut-sudut matanya dan menyalakan lampu.
“Kok
kamu enggak pulang? Enggak enak kalau dilihat tetangga besok. Masa pagi-pagi
udah ada lelaki di rumah.”
“Kamu
tadi demam, makanya aku enggak pulang. Tuh, setelah aku peluk semalaman,
panasmu turun.” Ia menarikku ke tempat tidur dan membaringkanku di sisinya.
Sambil memejamkan mata, ia mengelus-elus keningku. “Kamu jangan sakit, dong.”
Aku
rasanya pernah berada di situasi ini. Ya, pernah. Hanya saja bukan Giri yang
berbaring di sampingku, melainkan ia yang menikahi ibu ketika aku berusia
sepuluh tahun. Seingatku hal itu terjadi ketika umurku empat belas tahun.
Pagi
itu aku meminta izin untuk tidak pergi sekolah karena kurasakan badanku demam.
Seingatku juga ibu pergi bekerja dan menitipkanku kepada prianya yang sedang
libur itu. Situasinya benar-benar sama. Ketika aku membuka mata, kudapati pria
itu berbaring di sampingku sambil mengelus-elus keningku.
“Ibu
sudah pergi kerja. Kamu sakit hari ini, Om yang rawat.” ia menghentikan
kegiatan tangannya di keningku dan melingkarkannya di tubuhku. Ia mendekapku
sambil bertanya, “Mau cepat sembuh, enggak?” Kemudian ia tersenyum.
Pada
beberapa saat, aku merasa sangat bahagia. Akhirnya sosok yang telah lama hilang
bisa kutemukan lagi. Ternyata beginilah rasanya punya ayah. Namun itu tidak
berlangsung cukup lama. Ketika aku perlahan memejamkan mata, kurasakan
tangannya menjelajahi dadaku yang kala itu masih belum ranum berbuah. Aku
tersentak dan membuka mataku. Bingung atas apa yang sedang terjadi dan ia
lakukan.
“Kalau
Ibu sakit, Om selalu giniin Ibu, dan Ibu cepat sembuh. Duh, masih kecil ya kamu
ternyata. Baru berbuah, belum matang pula.” Katanya sambil menelusuri kedua
dadaku.
Jantungku
berdegup sedemikian kencangnya. Kepalaku panas. Aku marah, aku bingung, ingin
menangis, tapi tubuhku tidak dapat bergerak sama sekali, ragaku lumpuh seketika.
Aku ingat betul telepon ibu yang menyelamatkanku kala itu. Ketika ia keluar dan
mengangkat telepon itu, aku mengunci pintu kamarku dan tidak keluar hingga ibu
pulang. Sepanjang hari di dalam kamar aku menangis tanpa suara. Pada usiaku
yang sebelia itu, aku memutuskan bahwa kelak aku tidak perlu berurusan dengan
laki-laki jika hanya untuk ditinggalkan atau dinista.
Tangan
Giri tidak berpindah dari keningku. Ia terus saja mengelus-elus keningku,
bahkan sampai membuat dirinya sendiri tertidur. Kutatapi tulang-tulang pipinya
yang keras dan bibirnya yang tipis. “Maaf telah menghabiskan empat tahun
waktumu,” bisikku. Sementara
ia tertidur, aku memasukkan baju ke dalam koper dan bersiap pergi dari rumahku
sendiri. Kutinggalkan telepon genggamku di atas meja rias. Tak lupa juga
kutinggalkan secarik pesan yang kutempelkan di cerminnya. Maaf, aku tidak bisa melakukannya lebih jauh. Aku belum siap dan tidak
akan pernah siap. Pergilah.
(Merupakan cerpen yang diibuat pada kelas Penulisan Kreatif dengan tema cerpen yang terinspirasi oleh "Belajar Mengarang" karya Seno Gumira Ajidarma)
Comments
Post a Comment