(Cerpen) Pulang

Alarm dari telepon genggamku berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 7.45, Minggu pagi. Sungguh sial jadwal pertemuan hari ini pada pukul 11.00 nanti, di daerah Grogol pula. Perjalanan dari Depok ke Bogor memakan waktu dua jam perjalanan, itu berarti setidaknya aku sudah harus berada di dalam kereta pada pukul 09.00, dan aku punya waktu satu jam lima belas menit untuk bersiap. Dan oh, dua puluh menit sudah berlalu sejak aku membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawa. Kenapa pula aku harus menyetujui pertemuan di pagi akhir pekan yang seharusnya bisa kugunakan untuk tidur tanpa harus memikirkan untuk bangun.
“Sudah bangun?” tanya Jul, seorang teman yang merelakan dirinya menjadi alarmku yang lain via telepon.
“Sudah. Terima kasih sudah membangunkan. Aku mandi dulu.” Aku menutup telepon, masih dalam keadaan setengah sadar.
Sudah dua tahun aku menetap di Depok untuk berkuliah, namun moda transportasi yang kumengerti hanya kereta listrik dan bus Transjakarta. Aku tidak pernah bisa mengerti cara naik angkutan umum selain dua hal yang kusebutkan tadi. Terlalu banyak angka, terlalu banyak warna, sangat berbeda dengan kota tempatku tinggal terdahulu, Pekanbaru.
Aku berhasil mempercepat aktivitas pagi hariku dan sudah berada di dalam kereta listrik pada pukul 08.53. Rute menuju Grogol yang kumengerti adalah kereta listrik rute Jakarta Kota dan berhenti di Stasiun Juanda, kemudian dilanjutkan dengan bus Transjakarta rute Kalideres dan berhenti di halte Grogol. Sederhana!
Pertemuan hari ini adalah sebuah janji temu dengan seorang narasumber untuk liputan majalah kampusku. Setelah pertemuan tersebut berakhir, sebenarnya aku bisa saja langsung pulang ke rumah tanteku di bilangan Cengkareng, namun teman-temanku sudah terlebih dahulu membuatku berjanji akan datang makan siang, menonton, dan mungkin mengakhirinya dengan berkaraoke bersama. Penyegaran pasca minggu ujian menurut mereka, meski menurutku penyegaran yang paling tepat adalah tidur. Aku benar-benar kurang tidur seminggu ini. Terlalu banyak makalah yang harus kuselesaikan dengan tenggat waktu pengumpulan yang berdekatan.
Aku terbangun dan mendapati mulutku terasa kering. Ah, aku lupa lagi membeli masker di dekat stasiun tadi. Kulihat ke jendela, Stasiun Cikini, satu stasiun lagi. Dengan mata yang masih sembab, aku mengeruk isi tasku dan mengeluarkan sebotol air mineral dari sana. Mulut dan tenggorokanku terasa sungguh kering.
Sudah sekitar tiga puluh menit aku berdiri di halte Juanda. Tidak ada satu pun bus Transjakarta rute Kalideres yang berhenti, rute Tomang juga demikian. Semua menuju halte Harmoni. Jika bus yang berikutnya datang adalah bus rute Harmoni, aku akan menaikinya dan melanjutkan perjalananku menuju Grogol dari sana. Aku melihat jam tanganku, sudah pukul 10.15.
Halte Harmoni adalah salah satu tempat yang paling kuhindari jika sedang akhir pekan. Tumpah ruah manusia. Banyak orang tua yang menggandeng anak-anaknya, ada pula yang menggendongnya, bahkan ada anak yang menangis sambil menarik-narik baju ibunya. Lain halnya dengan orang-orang seusiaku. Yang perempuan tampak cerah dengan pakaian dan dandanan yang apik, pasti membutuhkan waktu yang lama untuk memakai eyeliner, mascara, eye shadow, dan apa pun itu yang mereka taruh di wajahnya. Yang pria tampak gagah dengan kemeja dan celana yang kebanyakan berwarna krem, tak lupa rambutnya yang terlihat mengkilat dan kuyakin sangat kaku bila dipegang. Namun banyak juga pria dengan penampilan seadanya hanya dengan kaus, celana jeans, dan sandal jepit. Mereka nampaknya sangat bersemangat untuk berjalan-jalan di akhir pekan. Dan aku bukan bagian dari mereka. Aku mulai merindukan kamarku, terutama kasur yang kutinggalkan dengan sangat rapi tadi.
Kupikir antrean bus rute Kalideres akan sepi, karena siapa yang menjadikan Kalideres tempat berwisata? Namun ternyata aku salah. Antrean mengular hingga ke depan pintu halte bus rute Kota. Benar-benar pagi yang padat di halte Harmoni. Rasanya aku ingin keluar halte dan memberhentikan taksi, namun aku tak yakin itu akan membuatku sampai tujuan lebih cepat, lagipula biayanya bisa untuk biayaku makan selama beberapa hari. Tiga puluh lima menit kuhabiskan berdesakan di jalur antrean. Aku hampir menyikut seseorang di sampingku dengan sangat kasar saat bus datang. Hampir, karena untuk menarik napas pun adalah sebuah tantangan manakala orang-orang mulai berebut untuk masuk ke dalam bus.
Bisa dibilang ada hubungan benci dan cinta antara aku dan bus Transjakarta. Benci, sebab seringkali aku harus berhadapan dengan ibu-ibu yang sangat bersemangat untuk duduk sehingga melupakan hak orang lain untuk sekadar berjalan dengan normal. Cinta, sebab jalur Transjakarta sekarang tak lagi terlalu banyak dilalui kendaraan pribadi, paling tidak kecepatan moda transportasi ini bisa kuandalkan. Aku menengok jam tangan, pukul 11.10, aku berlari secepat kubisa setibanya di halte tujuan. Narasumberku sudah duduk manis di coffee shop tempat kami janji temu, tidak begitu jauh dari halte Grogol. Aku meminta maaf dengan alasan kebanyakan orang Jakarta lainnya, macet, dan segera mewawancarainya.
Setelah menghabiskan secangkir teh hijau yang kupesan dan menyudahi obrolan ringan off the record, aku berpamitan kepada sang narasumber hendak melanjutkan perjalanan ke pusat Jakarta. Kami pun bersalaman dan berpisah. Aku mengambil telepon genggam dari saku kemeja dan menelepon penanggung jawab rubrik, melaporkan bahwa pekerjaanku telah selesai.
Aku dan teman-temanku berjanji untuk langsung bertemu di Mal Grand Indonesia pada pukul 15.00. Kulihat lagi jam tanganku, pukul 13.20, dengan bus Transjakarta rute Blok-M, kuhitung-hitung bisa sampai tepat waktu di sana, ya setidaknya jikalau terlambat paling tidak hanya sekitar dua puluh menitan saja. Aku kembali menuju halte Grogol. Dari halte Grogol aku harus menumpang bus rute Harmoni, dari sana baru aku bisa melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan. Jalanan tidak begitu padat. Titik macet masih di tempat yang sama, perempatan Jalan Biak.
Halte Harmoni yang tadi pagi sangat padat dan sibuk terlihat lebih lengang. Tidak begitu banyak antrean yang mengular, antrean yg mengular hanya terlihat untuk bus rute Lebak Bulus. Agaknya orang-orang sudah sampai di tujuan berwisatanya masing-masing. Hanya terlihat beberapa gerombolan remaja, mengumbar tawa di beberapa sudut halte. Anak-anak kecil yang terlihat juga tidak begitu banyak. Aku berdiri di ambang pintu halte untuk bus rute Blok-M. Tidak ada antrean mengular sebab bus dengan rute tersebut cukup banyak yang beroperasi. Namun meskipun begitu, aku tidak mendapat tempat duduk di dalam bus.
Aku sudah duduk manis di restoran Italia tempat kami janji temu. Jam tanganku menunjukkan pukul 15.10 dan aku menjadi orang yang paling pertama sampai. Tak beberapa lama akhirnya tiga temanku muncul juga satu per satu. Setelah menyelesaikan makan siang, kami bergegas menuju bioskop di lantai tujuh. Setelah melakukan beberapa observasi mengenai satu per satu film yang sedang diputar, akhirnya kami menemui kata sepakat pada sebuah film aksi Jepang yang diadaptasi dari komik. Kami melanjutkan obrolan kami yang sempat tertunda karena selesainya makan siang sembari menunggu pintu teater dibuka.
Pukul 23.34 telepon genggamku berdering. Sebuah pesan dari tante menanyakan apakah aku pulang hari ke rumahnya sesuai janjiku minggu lalu. Aku menjawabnya dengan singkat, “Ya”. Kami melanjutkan penyegaran kami menuju sebuah tempat karaoke dan menghabiskan dua jam di sana. Kurasakan suaraku menjadi sedikit parau. Mungkin aku terlalu menghayati lagu-lagu yang kubawakan tadi. Setelah berpelukan dan saling berpamitan satu sama lain, aku berjalan keluar mal, ke arah halte Bunderan HI.
Sambil menikmati sisa-sisa keramaian ibukota di malam minggu, aku berjalan dengan santai membiarkan semilir angin menyentuh wajahku. Untung saja kini bus Transjakarta rute Harmoni dan Kalideres memperpanjang waktu operasinya, apalagi di akhir pekan. Tidak butuh waktu lama untukku menunggu bus datang.
Saking lelahnya, aku langsung terlelap ketika mendapat tempat duduk di dalam bus. Namun aku terhentak tidak beberapa lama setelah menutup mataku. Sang Supir mengerem dengan sangat mendadak sembari membunyikan klakson panjang. Karena lelah dan tidak begitu peduli, aku melanjutkan tidurku. Setibanya di halte Harmoni, kusadari betapa lengangnya halte tersebut. Beberapa pintu menuju beberapa rute bus sudah ditutup, lampu-lampu pun sudah beberapa dimatikan. Suasana remang yang cenderung gelap juga menambah kesan horor halte tersebut. Hanya ada beberapa orang di pintu halte rute Kalideres, salah satunya aku.
Masih dalam keadaan kantuk dan lelah yang berlebihan, aku mencoba tetap siaga. Kulihat seorang pria tidak henti-hentinya memandangiku. Aku bisa dengan jelas melihatnya memperhatikanku. Ini mulai membuatku merasa tidak nyaman. Apa kira-kira yang ada di kepalanya? Aku salah tingkah. Setiap kali aku memalingkan wajah dan kembali ke arah wajahnya, ia masih saja memperhatikanku. Oh, Tuhan, lindungilah aku. Aku seharusnya mendengarkan nasihat ibu untuk tidak lagi pulang larut malam.
Aku buru-buru menaiki bus yang datang dan segera mengambil tempat di area perempuan. Sesekali aku masih melirik pria tersebut. Ia masih memperhatikanku. Ibu, ayah, tante, aku takut sekali. Aku mencoba menyalakan telepon genggamku yang mati karena kehabisan daya. Nihil. Aku mencoba tetap terjaga selama perjalanan sambil harap-harap cemas bahwa tak ada yang akan menyakitiku.
Akhirnya bus yang kutumpangi sampai di halte Cengkareng. Kulihat pria tersebut juga turun di halte yang sama. Aku semakin takut. Malam sudah semakin pekat. Orang-orang kebanyakan sudah menghentikan aktivitas mereka.
Untungnya rumah tanteku tidak jauh dari halte. Aku berjalan—setengah berlari sambil sesekali menengok ke belakang. Pria tersebut masih mengikutiku. Aku rasanya ingin menangis saking takutnya. Sesampainya di gang menuju rumah tante, aku berlari sekencang mungkin dan masuk ke dalam rumah. Setibanya di rumah aku menengok ke luar jendela. Pria itu berhenti sebentar di depan rumah dan berjalan pergi sambil beberapa kali menengok ke rumah. Aku menutup gorden jendela dan menarik napas panjang. Lega sekali. Tanpa mandi bahkan mengganti baju, aku membanting tubuhku ke atas kasur.
Kudengar ibuku menangis di kejauhan. Ini mimpi atau asli? Dengan sekuat tenaga kubuka mataku dan berjalan terseok-seok keluar kamar. Sudah pukul 09.00 pagi. Kudapati ibuku menangis terisak di ruang keluarga, bersama dengan ayah, adik, tante dan sepupuku. Ada apa ini? Kenapa mereka menangis?
“Bu, kok nangis? Kok ga bilang kalau mau ke Jakarta?” Aku terduduk di depan ibuku. Tak ada jawaban. Karena penasaran, aku berjalan keluar rumah. Di bangku teras terlihat seorang pria sedang duduk membaca koran. Wajahnya tak asing. Ini pria yang tadi malam terus memandangiku! Aku terperanjat, hendak masuk kembali ke dalam rumah.
“Tunggu!” Ia berteriak, aku mematung. Ia menengok ke arahku, aku menengok ke arahnya. Entah daya magnet dari mana yang membuatku berjalan perlahan dan menghampirinya.
“Karena kau sudah di sini, duduklah. Kau tak perlu takut. Aku tidak bermaksud jahat. Ini, bacalah.” Ia menyodorkanku koran yang sedang ia baca. Masih dengan perasaan ragu-ragu aku menengok ke artikel yang ia maksud. Sebuah headline yang dibuat dengan huruf kapital dan dicetak tebal, KECELAKAAN BUS TRANSJAKARTA DI SARINAH MEMAKAN 12 NYAWA.
“Pulanglah,” katanya lembut.

***

Comments

Popular Posts