"Papaoutai"

Beberapa hari ini aku sedang senang-senangnya mendengarkan sebuah lagu berbahasa Prancis dari seorang penyanyi Belgia, Stromae. Lagu yang kusuka berjudul "Papaoutai". Awal kumenemukan lagu ini dari akun youtube grup acapela Pentatonix. Karena penasaran, aku mencari versi aslinya. Dan versi original Stromae yang jauh lebih menarik untukku.

Awalnya aku tertarik akan lagu ini karena musiknya yang catchy, kemudian videonya, dan akhirnya liriknya yang reff-nya kira-kira begini
Où t'es? Papa, où t'es?
Où t'es? Papa, où t'es?
Où t'es? Papa, où t'es?
Ou t'es, ou t'es, où t'es, Papa où t'es?
Jika ditransliterasikan ke dalam bahasa Inggris kira-kira menjadi
Where are you? Where are you, Papa?

Pada video musiknya, anak kecil yang digambarkan sang produser sebagai seorang anak yang memiliki sebuah figur laki-laki dewasa, tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Ia merasa iri kepada anak-anak lainnya. Hingga akhirnya rasa irinya tersebut berubah menjadi rasa marah.
Anak tersebut sudah melakukan berbagai cara untuk menggerakkan figur laki-laki dewasa tersebut, hingga ia lelah dengan sendirinya. Pada pertunjukkan live-nya, Stromae seringkali memberikan perpaduan rasa marah dan sedih yang besar pada lagu tersebut, sesuai dengan liriknya (silakan cari selengkapnya di Google).

Ini membawa ingatanku kepada seorang laki-laki yang kabarnya merupakan ayah biologisku. Entah benar atau tidak, karena pun sudah bertahun-tahun kami tidak berjumpa.
Baik, sarkasme ini berlebihan aura negatifnya, maafkan.

Terakhir kami berjumpa melalui dunia maya, dengan bantuan Facebook. Ia menambahku sebagai temannya. Ia memakai nama panggilannya yang tak asing, tetapi sempat asing juga untukku. Untuk beberapa saat aku sempat tidak menyadari ia siapa, sampai akhirnya kami berbicara.

"Siapa ya?"
"Berapa banyak Budiansyah yang kamu kenal di hidup kamu?"
"Oh, Bapak"
"Cuma begitu responmu?"

Begitu kira-kira potongan percakapan kami tiga tahun yang lalu. Dan setelah percakapan dengan tendensi yang menyalahkannya, ia memutus lagi koneksi kami. Aku tak begitu peduli, jangankan di dunia maya, di dunia nyata pun ia sudah memutus koneksi denganku.

Apakah aku terlalu dingin? Jika kau berada di tempatku, kira-kira akan bagaimana responmu?

Namun mungkin sifat dinginku ini merupakan hasil dari yang sudah kulalui sejak kecil. Sebenarnya bukan dingin, melainkan tidak begitu ingin peduli. Aku takut jika kepedulianku hanya akan menghasilkan kebencian berlebihan terhadapnya. Jelas itu tidak baik. Aku masih takut neraka karena durhaka terhadap orang tua.

Kehilangan seorang ayah tidak menjadikanku anak yang kehilangan figur laki-laki yang kutakuti dan kuhormati. Terima kasihku kepada kakek dan ayah yang kini kumiliki.
Seiring berjalannya waktu, masa kecilku yang dapat dibilang kurang lengkap itu menjadikanku pribadi yang lebih maklum kepada orang lain. Mama mengajarkanku untuk tidak pernah benci kepadanya, toh hidupku baik-baik saja. Dan itu benar adanya.

Sesekali aku bahkan berpikir akan seperti apa hidupku jika ia tetap berada di dalamnya. Kemungkinan lebih buruk toh tetap ada, meski kemungkinan lebih baik juga ada. Dengan sendirinya aku mencoba untuk legowo akan alasan-alasan yang kemungkinan tidak ia sebutkan ketika hendak pergi. Apa pun alasan-alasan yang kubuat di dalam kepalaku itu. Secara tidak sadar juga aku mengaplikasikannya ke keseharianku. Aku seringkali tidak ambil pusing kepada orang-orang yang berhenti di tengah jalan. Aku hanya akan berjalan dengan orang-orang yang ingin berjalan bersamaku, lainnya tak perlu repot-repot dipikirkan.

Untuk marah dan membenci pun aku masih pikir-pikir. Dan, tidak ada gunanya memang. Meski ketika sekolah seringkali ia menjadi alasanku untuk pencapaian-pencapaian yang dapat kuraih. Mengalirkannya menjadi energi positif. Dan meskipun sudah begitu, itu tetap membuatku lelah. Karena secara tidak sadar aku menjadi orang yang sangat ambisius secara akademis ketika sekolah.

Namun kini dapat dengan bangga kubilang, aku tidak ingin melakukan pembuktian apa pun terhadapnya. Aku menjalani dan melakukan yang kusuka tanpa tendensi berlebihan harus berhasil. Dan ini sangat menyenangkan! Terlebih ketika aku menyadari benar-benar tidak ada lagi rasa benci dan ingin menyalahkannya.

Aku hanya penasaran. Kira-kira ia mengingatku seperti aku mengingatnya atau tidak? Kira-kira ia penasaran akan keadaanku sekarang seperti aku penasaran terhadap keadaannya atau tidak? Kapan kira-kira ia akan muncul lagi? Ia sudah melewatkan setiap tanggal 16 Juli-ku selama belasan tahun, melewatkan setiap penghargaan yang aku dapatkan. Ketika wisuda mungkin? Atau ketika aku menikah nanti? Atau ketika aku melahirkan anak pertamaku? Ah lama sekali, ya, itu. Pun ketika ia muncul, aku akan dengan biasa saja menyalami dan menyapanya.

Biarlah. Datang dan muncullah kapanpun kau mau. Hingga saat itu tiba, mari kita mencoba untuk ramah kepada masing-masing tanpa tendensi untuk menyalahkan dan menjelaskan panjang lebar yang sudah terjadi.

He's my dad after all, there's his blood rushing on my veins, nothing can change it.

Comments

Popular Posts