Minum Susu

Kau tentu tahu jika sisa-sisa makanan berlebih di perutmu--yang tak keluar melalui jalur ekskresi tidak segera kau buang akan menyiksa jasmanimu?

Semengganggu itu.

Kau pun tentu tahu bagaimana rasanya jika kepalamu dipenuhi berbagai macam pikiran--dan pikiran-pikiran tersebut mengeroyok buru-buru hendak dimuntahkan?

Sebising itu.

Memang inilah akibatnya membaca. Otak pun terimpuls untuk turut berpikir. Terhitung satu semester kuhabiskan separuh waktuku membaca--di lain waktu berinternet ria atau tenggelam di drama-drama norak. Begitulah yang kuhadapi sekarang. Masih dengan handuk menutup kepala dan niatan makan demi menuntaskan puasa hari ini yang tertunda, aku memaksa diri duduk di depan laptop. Hendak memuntahkan pikiran yang mengeroyok saat aku mandi, persis beberapa menit yang lalu.

Di kamar mandi aku berencana hendak ke supermarket untuk memenuhi kembali logistik yang beberapa bulan ini kutelantarkan ketiadaannya. Minyak goreng, mentega, sampo, body lotion, deterjen, roti, (kemungkinan) sereal, dan susu. Ya, susu. Bagi kalian yang merelakan hidupnya di sekelilingku tentu tahu betapa aku memusuhi susu. Bukan olahan susu, ya, murni dalam bentuk susu, cair, untuk diminum.

Dulu waktu masih TK, ada sebuah ritual pagi yang harus kujalani dengan khidmat sebelum berangkat sekolah. Tentu itu adalah minum susu. Aku ingat betul bagaimana mama memaksaku menghabiskan segelas susu, hingga benar-benar habis. Mama bahkan akan mengecek gelas tersebut terlebih dahulu untuk kemudian menjadi tiketku pergi ke sekolah. Tak jarang juga ia akan sengaja menontonku meminumnya sampai habis, memastikan susu itu masuk ke dalam tubuhku. Mungkin karena itu adalah ritual yang "dipaksakan" setiap pagi, aku jadi gerah. Aku jadi menganggap susu adalah momok. Susu tidak enak. Susu menyebalkan. Aku benci mama ketika ia melototiku untuk menghabiskan segelas susu itu. Tapi kini tentu aku tak bisa menyalahkan mama, mengingat tubuhku sangat kurus--terlihat rentan saat itu.

Kebencianku kepada susu menemui penyelesaian saat SD. Mama yang sibuk dengan pekerjaannya tak lagi begitu menghiraukan ritual susu pagi, hingga pada saat aku menolak dibelikan susu, mama tak pula membantah. Akhirnya aku terbebas total dari ritual yang begitu memuakkan bagiku dulu. Aku berhenti minum susu dan menjauhi susu. Untungnya, mama yang dahulu sebegitu militan menyuruhku minum susu pun sama sekali tidak menyukai susu. Entah terdoktrinasi dengan selera dan kebiasaannya, kami sama-sama menjauhi susu.

Keenggananku pada susu mencapai titik hampir fobia. Hidungku akan memicing manakala mencium aroma susu, terutama susu vanilla. Bila sudah begitu, aku akan mencari sumber aroma dan menjauhkannya sebisaku. Aku teringat salah satu kejadian yang lumayan absurd waktu aku terdaftar di kelas 5A SDN 01 Kalideres. Entah pada pelajaran apa, guruku memerintahkan kami membawa bekal 4 Sehat 5 Sempurna. Sehari sebelumnya aku melapor bahwa aku tidak minum susu, maka jadilah aku membawa botol air mineral berlabel tulisan "Susu". Itu adalah salah satu hari tergelapku. Semua membuka botolnya yang berisi susu dan mengarahkan ke hidungku dengan sengaja. Mereka mengolok-olok indera penciumanku. Aku mual sejadi-jadinya hingga beberapa kali keluar kelas untuk membuang ludah.

Setelah beberapa tahun sama sekali tidak bersentuhan dengan susu--untuk diminum, perubahan terjadi padaku saat masuk dunia perkuliahan. Adalah hal yang lumrah mendapatiku terlambat masuk kelas pagi. Alasan yang cukup klasik, terlambat bangun, entah itu karena prokrastinasi dalam mengerjakan tugas, atau sengaja maraton film. Alhasil pagiku penuh kegiatan jalan cepat--hingga terengah-engah. Jangankan untuk sarapan, mandi pun kulakukan dengan terburu-buru. Mau tak mau aku mencari sebuah alternatif bentuk sarapan kilat. Aku sempat rajin mengonsumsi kopi siap minum untuk beberapa saat, hingga aku sadar bahwa terlalu banyak gas dalam tubuhku sepagi itu. Lalu roti, yang kemudian kupertimbangkan kurang praktis, karena aku harus mengunyah, mengunyah butuh konsentrasi, dan konsentrasi butuh waktu. Akhirnya kuberanikan mencoba untuk mengonsumsi susu siap minum, dan tak masalah ternyata. Tidak membuat perutku bergas dan cukup mengenyangkan hingga kelas pagi usai. Entah rasanya berubah karena memang sudah berubah atau karena sudah cukup lama aku tidak meminumnya. Sejak itu perlahan aku mulai permisif pada susu hingga sekarang.

Niatanku kini untuk menyimpan susu pun tidak berbeda dengan "perkenalan kembali" dengan susu. Aku membutuhkan penganan kilat dan praktis saat sahur. Percaya atau tidak, hampir empat tahun berkuliah dan hidup jauh dari orang tua, baru kali ini aku merasakan puasa di kos. Bangun sahur sendiri, ke warteg sendiri, makan sendiri, cari buka puasa sendiri. Setelah beberapa kali bangun sahur dan pergi ke warteg kujalani, rasanya lumayan membuang waktu. Ya, sederhananya aku malas untuk melakukan itu. Maka nanti setelah tulisan ini rampung aku akan membeli susu.

Sebenarnya poin yang hendak aku "muntahkan" di sini adalah bagaimana aku menyadari bahwa kini aku semakin permisif pada segala hal. Sepermisif aku pada susu yang dulu sangat tidak kusuka. Salah satu tindakan permisifku adalah akhirnya melanjutkan skripsi dengan topik teologi. Dengan mama yang kini cenderung konservatif, aku seringkali berseberangan pendapat dengannya. Tak jarang kami perang urat saraf akan suatu hal--dengan ia berasaskan Alquran, hadis, dan kajian yang ia ikuti, dan aku dengan artikel-artikel atau apapun yang kuketahui dalam laras ilmiah. Akibat pertikaian yang kerap tanpa jalan keluar, aku memutuskan untuk sedikit menghindar dari apapun pembicaraan yang bersifat religius--pelajaran maupun pengajaran, bukan peribadatan--dengan mama.

Dalam hal memutuskan untuk melanjutkan skripsi bertopik teologi pun butuh beberapa waktu bagiku untuk menimbang. Namun "beberapa waktu" itu pun cenderung singkat, hingga secara impulsif aku memutuskan untuk lanjut. Belakangan yang kualami adalah aku harus membaca banyak buku, referensi, dan artikel untuk sekadar menemukan definisi istilah-istilah tertentu. Bukan berarti selama kuliah aku tidak pernah mendapatkan materi ini, aku pernah, sayangnya aku tidak begitu banyak menyerap hal ini. Tidak pula ilmu yang kudapatkan setengah matang, malah ia cenderung tidak matang. Bayangkan, aku menghabiskan waktu seminggu lamanya untuk sekadar mengerti bahwa sufisme dan tasawuf adalah dua istilah yang mengacu pada pengertian yang sama!

Selama proses penulisan, berulangkali aku merapal bahwa aku salah memilih topik. Bahwa topik yang kupilih terlampau jauh dari kemampuan nalarku. Bahwa membicarakan ketuhanan adalah hal yang sensitif, sesensitif itu bisa mengubah seluruh cara berpikirmu akan kepercayaanmu. Cukup panjang waktuku untuk bergulat dengan bagian diri yang merasa kurang mampu.

Berulangkali pula aku berusaha mengingatkan diri bahwa posisiku kini sebagai peneliti, dengan teologi sebagai objeknya. Tentu aku harus memisahkan identitas yang melekat dengan objek penelitianku agar penilaianku tak bias. Namun semakin tulisanku rampung, semakin pula ia secara perlahan terserap ke dalam pori-pori tubuhku, dan semakin aku mengerti bahwa pada akhirnya menghayati ketuhanan adalah suatu yang musti. Agama boleh dikatakan sebagai candu, tapi pada akhirnya manusia adalah makhluk yang rentan. Sekuat apapun, kita butuh pegangan nirwujud, entah sekadar eskapis ataupun murni mengimani. Bahwa munculnya perbedaan dalam cara menggapai Tuhan yang dipercaya Al-Hallaj dan Al-Ghazali sebenarnya memiliki satu tujuan, untuk mengenali dan menyayangi Yang Esa. Bahwa dalam menghayati ketuhanan adalah perjalanan individual, tidak dapat diganggu gugat oleh intervensi luar.

Mungkin secara kasar ini akan dianggap buah pemikiran yang cukup liberal, atau malah cukup berantakan tak berdasar. Tapi aku yakin bahwa aku pun kini sedang dalam perjalananku. Perjalanan yang bisa jadi memakan waktu sebentar, bisa jadi memakan waktu yang cukup lama. Dan semoga mama pun perlahan bisa mengerti. Semoga mama sabar menantiku pulang.

Comments

  1. Keren anak teh yuni..
    Baca tulisannya aku yakin astrid anak yg cerdas....
    Eeeet...buruan dinikahin deh....calon istri berquality nih...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts