(Cerpen) Sepiring Kue Pancong
“Siapa tadi, Pak, yang datang?” Tanya istriku yang baru selesai memarkirkan sepedanya di teras. Wajah kuning langsatnya masih terlihat merah setelah menggowes cukup jauh ke sekolah Adi, anak kami.
“Bibi,” jawabku singkat, masih belum beranjak dari sofa butut yang busa dan benangnya menjuntai ke lantai.
Istriku terhenti di depan kamar, ia mengurungkan niatnya menarik gorden di depan pintunya. “B…bi…bibi?”
“Dia ternyata sempat kabur ke Medan dulu. Baru berani lagi pulang sekarang. Tahu alamatku juga kebetulan. Karena ketemu Fandi di Blok M.”
Pikiranku mengawang. Jauh mundur ke beberapa tahun silam di Grogol. Di rumah keramik putih berpagar runcing tempatku tumbuh, dan sayangnya juga melihat keluargaku habis terbunuh.
***
Mami dan papi pagi ini tiba-tiba bertanya hendak ke perguruan tinggi mana aku melanjutkan pendidikan. Senang sekali rasanya mengingat bahwa aku akan segera berkuliah. Sambil sarapan di teras dengan secangkir teh dan sepiring kue pancong yang hangat, aku berdiskusi dengan papi. Agaknya ia menginginkanku untuk kuliah ekonomi. “Biar kamu ngerti caranya handle itu toko kue,” katanya. Aku mengiya saja. Toh selama ini keputusan mereka untukku memang selalu tepat.
Setelah berdiskusi dengan papi, aku menghampiri mami di dapur. Kulihat ia masih bermain-main dengan adonan dan cetakan kue pancong.
“Jangan ambil Trisakti, ya,” ujarnya sambil mengaduk adonan mentega.
“Loh kenapa? ‘Kan itu dekat dari sini.”
“Baca koran, tuh! Kamu diliburin hari ini karena kerusuhan di Trisakti kemarin. Mami takut nanti kamu ikut demo-demo pula”, ia menengok ke arahku yang terduduk di kursi goyang.
Aku membangkitkan setengah tubuh dan meraih koran yang terletak acak di pinggir meja sebelah kursi goyang. Sayup-sayup aku mendengar keramaian di kejauhan. Siapa ini mengadakan pesta di hari Rabu? Aneh sekali.
Rabu, 13 Mei 1998. TRISAKTI BERDARAH. Berita utama ditulis dengan huruf kapital berwarna merah. Kejadiannya kemarin. Pantas saja kemarin dipulangkan lebih cepat. Ah, tapi apakah separah itu? Entahlah. Aku membuka lembaran yang lain.
“Koh, toko dihancurkan massa, Koh. Mereka kayaknya ngincer Chinese, Koh!” Terdengar Fandi berteriak-teriak dari depan pagar. Mami melengok ke celah jendela dan menyudahi kegiatan, lalu berlari ke luar rumah.
“Lho apa sih lu ngomong? Kenapa toko dilibas juga? Pih, tengok Fandi itu, Pih, katanya toko dihancurkan,” ucap mami seraya membereskan cangkir dan piring sisa sarapan kami sebelumnya.
Telepon berdering. Tanpa merapikan koran yang sedang kubolak-balik, aku menghampiri telepon di ruang tengah.
“Cepat pergi! Orang-orang itu mau bunuh orang Chinese semua!” kudengar suara perempuan setengah menangis, setengah berteriak di ujung telepon. Tanganku bergetar, bibirku beku. Aku berteriak sekuat yang kubisa, “Mami! Telepon penting!”
Mami mengambil gagang telepon dari tanganku. Aku masih terdiam tidak berubah posisi. Kulihat mami setengah berteriak dengan wajah ketakutan. Namun, aku tak bisa mendengar apa-apa, telingaku seperti mendapat turbulensi berlebihan. Aku hanya tahu ia sedang berteriak dan hampir menangis.
“Indra, cepat kamu sembunyi di gudang atas. Cepat, Indra!” Airmata sudah membasahi pipi mami, matanya juga memerah. Mami menarikku ke atas. Kulihat papi berlari ke kamar, tak lama kemudian ia keluar dengan kertas-kertas memenuhi dadanya. Sambil menaiki tangga kudengar teriakan orang-orang yang semakin nyaring dan jelas.
Mami membawaku ke gudang yang dulunya kamar cece. Ia menyuruhku berjongkok di sudut sementara ia menutupiku dengan banyak kardus kosong dan karung.
“Nanti Mami ke sini. Mami mau ajak Papi dulu. Kamu jangan bergerak ke mana-mana. Ngerti, Indra?” Bahkan aku belum sempat bertanya apa yang terjadi, pun mengiyakan instruksinya, mami keluar kamar begitu saja, lalu mengunci pintu. Setelah itu hanyalah gelap.
Aku terbangun dengan kepala yang sangat sakit. Seseorang sedang berusaha mendobrak pintu. Aku ketakutan. Aku perlu berlari, tapi kutahu berlari hanyalah menjemput mati.
“Indra?” ia berbisik memanggilku. Saat itu gelap, aku hanya bisa melihat siluetnya, seorang pria, dari celah-celah kardus. Ia perlahan mendekatiku. Aku tidak kuasa menahan kucuran keringat di dahi. Ia menyingkirkan satu per satu kardus yang menghalanginya denganku. Tidak perlu sampai kardus terakhir aku sudah bisa melihat wajahnya. Fandi.
Fandi menarikku keluar dari kamar. Ia meluruskan jari telunjuknya di bibir dan berjingkat-jingkat. Dalam keremangan kulihat rumahku berantakan. Kami menuruni tangga. Tepat di anak tangga terakhir, kulihat mami tergeletak dan berdarah di sekujur tubuhnya. Aku terduduk, kemudian membelai pipinya. Duniaku runtuh saat itu juga.
“Mami dan papimu sudah mati. Ayo, kita segera pergi kalau kau tidak mau mati,” ujar Fandi masih dengan berbisik.
Aku membangkitkan tubuh dan berjalan mengikuti Fandi. Sebelum sampai di pintu depan, aku menoleh ke belakang, tempat mami tergeletak. Selanjutnya yang kutahu adalah Fandi membawaku ke daerah Kalideres dan aku menjalani hidup bagai buronan. Pindah dari rumah satu ke rumah lainnya, rumah-rumah kerabat Fandi.
***
Aku bangkit dari sofa butut itu dan mengeluarkan isi kardus. Tadinya aku hendak pergi ke pasar, menempati kembali lapakku, dan berjualan kue pancong seperti biasa. Namun kini, kudapati diriku membuat kue pancong di dapur berdinding tanpa cat yang selama ini menaungiku. Sempit dan kumuh. Namun cukup teduh.
Kusajikan kue pancong buatanku di sebuah piring saji. Aku masih terdiam. Kuambil sebuah kue pancong yang masih hangat dan memasukkannya ke dalam mulut. “Tidak selegit buatan Mami.”
Di bibir kurasakan kue pancong itu tak hanya hangat, tapi juga basah. Begitu pula dengan kedua pipi dan sudut mataku.
***
Comments
Post a Comment