Tidur (Tidak) Bersama
"Kamu di mana?"
"Baru sampai rumah. Kenapa?"
"Saya akan bermalam di kamu."
"Tapi, ini 'kan bukan akhir pekan?"
"Tidak apa. Saya ke sana seselesainya."
Perempuan itu bergegas membuka pakaian kerjanya, melemparnya ke keranjang cucian kotor, dan berlari ke kamar mandi. Sementara air kucuran menyala, ia menyikat keramik pada lantai dan dindingnya. Sudah tiga minggu lelakinya alpa berkunjung, sudah tiga minggu pula kamar mandi dibiarkan mengonggoki cucian piring, dengan keramik dan lubang toilet yang menguning. Ia paham lelakinya akan protes jika mendapati ketidakteraturan tersebut pada saat menyikat gigi, dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Ia sikat segala sudut, segala penampang, segala sela. Tumpukan cucian piring ia bereskan. Botol-botol sampo ia tata, tak lupa sikat gigi lelakinya ia kucurkan di bawah air hangat. Tiga minggu tidak digunakan, tentu berpotensi dihinggapi bakteri, toh? Dan ia tidak ingin hal itu mendekati lelakinya.
Selesai mandi ia bersegera memilih baju. Celana piyama dan kaos yang tidak begitu ketat, tidak pula begitu oblong. Pas saja di tubuhnya. Ia tidak ingin terlihat begitu gembira dengan terlalu bersolek, juga tidak ingin terlihat begitu lusuh di depan lelakinya. Ia memoles halus alisnya, memulas tipis bibirnya, menapus lembut pipinya, menapis rapi rambutnya. Ia bersiap menunggu kedatangan lelakinya, selepas tiga minggu tak berdian.
Namun ia tahu, ia tidak boleh lengah. Ia harus menjaga porsi kegembiraannya. Semua harus di batas wajar. Ia tidak berani menunjukkan segala kebahagiaan mengetahui pintu tersebut akan diketuk dua kali sebagai formalitas, dibuka perlahan kenopnya sekali, lalu muncullah kepala lelakinya menyembul di balik pintu. Ia sudah memprediksi bahwa dirinya tidak akan tahan untuk tidak mengembangkan senyum sementara lelakinya menjalankan ritus kedatangannya tersebut. Ia masih akan bingung untuk lebih baik duduk di kursi, atau sila di lantai, atau rebah di kasur. Padahal ini bukan lagi kali-kali pertama--tetapi untuknya, gelagat rikuh tersebut tidak pernah bisa ia hilangkan. Ia tahu bahwa lelakinya tahu, dan ia tidak bisa berdiam memberikan kemenangan mutlak tersebut. Tidak adil menurutnya kalau dalam hubungan apapun tersebut, hanya ia yang melonjak kegirangan mendapati rasa rindunya akan segera terbasuh. Dan ia memutuskan untuk berbaring di pojok kasurnya sambil menyalakan laptop, menceburkan diri ke sisa-sisa pekerjaannya.
Tok..tok..
Otot pipinya terangkat, sudut bibirnya menjauh satu sama lain. Lelakinya datang. Mereka berdua akan sama-sama mendongakkan kepala. Si perempuan dari pojok kasur ke arah pintu, si lelaki dari luar pintu ke arah kasur. Si perempuan akan berusaha terlihat tenang sambil tetap merebah, si lelaki akan tersenyum lebar sambil melepas sepatu, kadang dionggok saja di depan rak sepatu, kadang disimpan rapi di rak sepatu paling atas. Malam itu mereka akan tidur berdampingan, bersama sepasang guling lainnya.
Malam itu mereka kembali pada ritus masing-masing didatangi dan mendatangi, saling memunggungi, hingga datang waktunya lena pada gulita. Namun lagi-lagi punggung si lelaki menghempas tubuh si perempuan hingga ke dinding pada tidurnya. Lagi-lagi si perempuan menghabiskan malamnya mengusap punggung si lelaki karena setiap ia lengah, si lelaki akan kembali mengejang tidurnya.
*
"Kamu sudah sikat gigi?"
"Belum. Mas duluan sana."
"Kamu saja, besok kamu kerja pagi, Mas masih mau main."
Tak banyak yang mereka utarakan. Mereka tenggelam di laptopnya masing-masing. Si perempuan masih rebah di kasur, sementara si laki-laki memunggunginya di depan meja belajar. Sesekali si perempuan akan menceritakan kesehariannya--yang sebetulnya biasa saja, namun dihiperbola, khusus lelakinya. Sesekali pula si lelaki akan menyambanginya di tempat tidur, melihat isi layar si perempuan sebelum berpaling ke layar teleponnya, lalu kembali ke kursi dan laptopnya sendiri. Tidak banyak kata meruah di udara. Lucunya, itulah yang sang perempuan rindukan. Rindunya dicukupkan hanya dengan berpapas pada punggung lelakinya belaka.
*
"Kamu sudah mau tidur?"
"Iya, besok ada meeting pagi di kantor."
"Ya sudah, matikan saja lampunya, Mas masih sedikit lagi."
Sang perempuan beringsut ke pojok kasur. Namun tidak seperti malam-malam biasanya, malam itu ia tidak menghadap ke tembok. Ia menghadap ke meja belajar, ke punggung lelakinya. Sesekali ia akan melempar ajakan agar lelakinya menyikat gigi. Sesekali lainnya ia akan menutup mata lalu si lelaki memanggil dan memastikan lelap tidurnya. Jika tidak ada jawaban, si lelaki akan bergegas ke kamar mandi, menyikat gigi dan cuci muka, lalu keluar dan mematikan seluruh lampu. Sisi kasur disisakan di pinggir bersama sebuah bantal dan guling. Si lelaki akan merebah, menyambar guling, dan memunggungi si perempuan. Barulah si perempuan akan bisa lelap senyata-nyatanya. Mereka pun tidur dalam senyap dan gelap, sesekali memunggungi, sesekali dipunggungi, sesekali memeluk, sesekali dipeluk, sesekali menyandar, sesekali disandari. Mereka akan lelap dalam perjalanan masing-masing.
Namun di pagi buta itu si perempuan tiba-tiba terjaga. Belum pun rasian sampai ke bubung, ia mencelik akibat sentakan punggung si lelaki ke tubuhnya hingga lekap ke dinding. Si perempuan lalu meraih pinggang si lelaki dan memeluknya dari belakang. Si lelaki lalu mengapit lengan si perempuan dengan lengannya. Apitan lengan itu ditahan cukup lama sampai lengan si perempuan menegang. Peredaran darah di lengannya terhambat akibat apitan rapat lengan si lelaki hingga telapaknya melembap. Si perempuan menggeser lengannya, si lelaki terusik dan mengejang. Malam itu ia habiskan dengan mengusap punggung si lelaki.
Namun di pagi buta itu si perempuan tiba-tiba terjaga. Belum pun rasian sampai ke bubung, ia mencelik akibat sentakan punggung si lelaki ke tubuhnya hingga lekap ke dinding. Si perempuan lalu meraih pinggang si lelaki dan memeluknya dari belakang. Si lelaki lalu mengapit lengan si perempuan dengan lengannya. Apitan lengan itu ditahan cukup lama sampai lengan si perempuan menegang. Peredaran darah di lengannya terhambat akibat apitan rapat lengan si lelaki hingga telapaknya melembap. Si perempuan menggeser lengannya, si lelaki terusik dan mengejang. Malam itu ia habiskan dengan mengusap punggung si lelaki.
*
"Mas sedang kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Ya apa sedang baik-baik saja atau tidak?"
"Tidak ada apa-apa, kenapa?"
Si perempuan memulas bibirnya, sementara si lelaki memakai sepatunya. Mereka berpisah pagi itu. Si perempuan tahu, lelakinya baru akan muncul dua minggu lagi.
*
"Mau dibawakan makanan?"
"Boleh, berdua saja, aku sudah makan."
"Nasi goreng padang, ya?"
"Pakai telur dadar, ya."
Malam itu mereka kembali pada ritus masing-masing didatangi dan mendatangi, saling memunggungi, hingga datang waktunya lena pada gulita. Namun lagi-lagi punggung si lelaki menghempas tubuh si perempuan hingga ke dinding pada tidurnya. Lagi-lagi si perempuan menghabiskan malamnya mengusap punggung si lelaki karena setiap ia lengah, si lelaki akan kembali mengejang tidurnya.
*
"Mas sedang sakit?"
"Enggak."
"Sedang ada masalah?"
"Kenapa ya tanya-tanya terus?"
"Ya aku mau tahu aja."
"Ya masalah itu-itu aja, ga ada yang gimana-gimana."
Sore itu si lelaki beranjak dan tidak muncul hingga lima minggu kemudian.
*
"Kamu di rumah?"
"Iya, kenapa?"
"Saya akan bermalam di kamu."
"Jangan."
"Maksudnya?"
"Jangan bermalam lagi di sini. Saya ingin tidur."
Si perempuan menjauhkan telepon genggamnya dari kasur. Ia menarik dirinya dari narasi kita yang tak pernah ada. Karena demi apapun, ia hanya ingin tidur dengan lelap.
***
Comments
Post a Comment